“Baiklah. Sekarang terserah padamu. Berbuatlah sesukamu. Kau boleh merobohkan rumah ini jika kau ingin,” pasrah Ribut. Matanya tampak berkaca-kaca.
Tak lama kemudian angin memutar piring melamin di atas lantai, lantas perlahan menyentuh tangan dan pipi Ribut.
“Syukurlah kalau kau memaafkanku. Bagaimanapun kau sudah kuanggap keluargaku sendiri. Kau yang selama ini menemaniku. Setia mendengarkan keluh kesahku,” ucap Ribut, beranjak untuk menutup pintu.
“Aku pikir kedatanganmu bukan hendak menyia-nyiakan waktumu?” tanya Ribut. Seolah mengerti kedatangan angin hendak memberi kabar.
Kali ini angin menjawab dengan mengetuk-ketuk daun jendela.
“Sabar sedikit. Aku sudah tak tangkas seperti dulu lagi,” ujar Ribut, membuka jendela.
Begitu jendela terbuka, angin melesat keluar menuju pohon asam di halaman rumah Ribut. Beberapa saat angin menggoyang-goyangkan pohon itu hingga daunnya berguguran.
“Sudahlah, aku sudah mengerti maksudmu. Berhentilah. Kau bisa merobohkan pohon itu!” teriak Ribut dengan suara parau.
Seketika itu angin menghentikan tiupannya. Ia kembali bersiul dan menghampiri Ribut.
“Kau ingin mengatakan bahwa musim penghujan akan datang, kan?”
Silir angin menyentuh pundak Ribut. Ia pun memahaminya.
***
Hampir tak ada satu pun orang-orang kampung percaya bahwa Ribut mampu berkomunikasi dengan angin. Orang-orang menganggap ia telah gila. Terlebih setelah ia sering kedapatan berbicara sendiri. Ia pun kerap menjadi bahan pembicaraan di kedai kopi.
“Mereka yang datang ke rumah Ribut hanyalah orang-orang bodoh dan sesat. Aku tahu betul siapa Ribut. Ia tak lebih dari seorang tua yang lain. Tapi entah mengapa mulutnya begitu manis, hingga mampu menghipnotis orang-orang untuk datang padanya.”
“Tapi tak satu-dua orang percaya bahwa Ribut memang mampu berkomunikasi dengan angin. Bahkan terakhir aku dengar dialah yang menggeser awan hitam ketika konser New Pallapa di lapangan Kaliwungu.”
“Pakai sapu lidi seperti pawang hujan?”