Tamu Bernama Angin

“Tidak. Konon ia hanya berbicara pada angin. Lalu angin menggeser gumpalan awan hitam ke utara sehingga tak jadi hujan.”

“Wuih. Ampuh. Hebat.”

“Bohong.”

“Maksudmu?”

“Ia tak sehebat itu. Buktinya waktu disuruh mengusir awan ketika ada wayang di halaman kantor desa, hujan tetap saja turun.”

“Jadi, kesimpulannya ia tak sehebat yang orang-orang katakan?”

“Menurutku sih begitu. Kalau kamu?”

“Entahlah.”

***

Tak ada yang lebih mengerikan ketika angin datang serupa kepulan asap raksasa menggulung ke langit. Ia bergerak berputar-putar serupa tarian sufi mengelilingi kampung. Suaranya menderu bagai mesin pesawat. Segala yang ada dihadapannya ditelan hingga luluh lantak. Bahkan beberapa rumah yang terbuat dari papan tercerabut dan terbang serupa kapas.

“Puting beliung… puting beliung…” Pekik seorang warga sembari memukul kentongan.

Jerit-tangis orang-orang dilanda ketakutan bersahutan. Mereka berusaha mencari perlindungan di kolong meja maupun ranjang. Peluh keringat  bercucuran sebab membayang di mata akan segera datang kematian.

Disaat orang berlomba-lomba menyelamatkan diri, Ribut justru keluar rumah. Dikejarnya angin serupa kepulan asap hitam yang terus berjalan. Sesekali ia berteriak agar angin menghentikan amukannya. Namun teriakan Ribut tak sebanding dengan gemuruh angin. Angin terus meluluh lantakkan apa saja yang ada didepannya.

“Demi Tuhan. Aku akan mengurungmu ke dalam botol jika kau tak menghentikan amukanmu!” teriak Ribut sembari mengacungkan sebuah botol kaca sebesar botol sirup.

Sungguh ajaib. Ancaman Ribut ternyata membuahkan hasil. Seketika itu angin berhenti mengamuk dan gumpalan serupa asap perlahan menyusut. Tak lama kemudian angin benar-benar menghilang dari perkampungan. Puluhan pasang mata yang menyaksikan kejadian luar biasa itu berdecak kagum. Kini mereka percaya bahwa Ribut memang mampu berkomunikasi dengan angin.

Melihat angin tak lagi mengamuk, Ribut bergegas pergi. Ia tak mempedulikan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan kekaguman. Ia terus berjalan ke selatan. Tempat kali pertama angin muncul secara tiba-tiba dan pemporakporandakan seisi kampung. Dan sejak saat itu, Ribut tak pernah kembali lagi ke rumahnya.

***

Arsip Cerpen di Indonesia