Oleh Kak Ian (Solopos, 05 Mei 2019)

Minggu pagi itu Paman Irfan sedang sibuk membuat boneka tangan. Segala peralatan dan perlengkapan sudah ada di hadapannya. Ada kaus kaki yang sudah tidak terpakai, kain flanel, benang wol, aksesori berbentuk mata, dan kardus bekas.
Semua itu adalah bahan daur guna untuk perlengkapan utama pembuatan boneka tangan. Tidak lupa peralatan berupa gunting, lem bakar dan spidol serta lainnya sudah Paman Irfan siapkan pula.
Akhirnya Paman Irfan pun memulai membuat boneka tangan itu. Namun, saat ia akan membuat boneka tangan itu datanglah Oco yang baru pulang seusai olahraga pagi bersama ayah.
Oco yang melihat Paman Irfan asyik membuat boneka tangan di teras depan rumah pun tertarik. Ia ingin ikut juga membuat boneka tangan seperti pamannya itu.
Paman Irfan adalah adik laki-laki dari bunda Oco. Adik paling bungsu di keluarga bunda.
“Paman boleh aku bantu membuatnya juga?” tanya Oco.
“Boleh! Tapi, kamu mandi dulu, ya! Soalnya bau kecut habis olahraga kan. Iya kan?” kata Paman Irfan sambil menutup hidung menggoda Oco.
Oco kemudian langsung mencium ketiaknya ke kanan dan ke kiri. “Oh, iya! Pantas saja Paman tutup hidung,” ucap Oco terkekeh, terlihat gigi putihnya. “Baiklah aku mandi dulu ya, Paman.”
Tidak lama seusai mandi Oco pun lekas menghampiri Paman Irfan. Lalu memulai membuat boneka tangan sambil mengikuti arahan pamannya itu.
“Memangnya harus ya Paman membuat boneka tangan setiap tampil?” tanya Oco di sela-sela membuat boneka tangan.
“Tidak selalu! Tapi jika untuk Paman, harus! Karena dengan memberikan boneka tangan, Paman bisa membuat mereka tersenyum kembali seusai Paman mendongeng. Apalagi jika Paman mendongeng di panti yatim piatu. Siapa tahu dengan boneka tangan yang Paman beri mereka bisa kembali terhibur sejenak. Kan membuat orang lain tersenyum itu juga perbuatan mulia. Iya kan!” panjang lebar Paman Irfan memberitahu Oco.
Oco hanya mengangguk. Ia tidak menyadari jika hampir salah menggunting pola.
“Ayo, guntingnya yang lurus jangan sampai ada yang tidak rata,” lanjut Paman Irfan saat tangan Oco hampir salah menggunting pola.
Oco pun langsung menyadarinya. “Oh, iya! Maaf-maaf Paman. Aku saking asyiknya mendengarkan ucapan Paman jadi hampir salah gunting,” Oco langsung bergerak cepat. Menyadari ia hampir salah menggunting pola di kaus kaki.
“Iya, tidak apa-apa! Ya, sudah kita lanjut lagi,” Paman Irfan pun memakluminya. “Jika sudah menggunting pola dari kaus kaki tinggal memasukkan guntingan kardus yang tadi berbentuk mulutnya, ya.”
“Siap, Paman!”
Satu jam lebih ternyata tidak terasa. Akhirnya Oco sudah membuat tiga boneka tangan buatannya. Namun karena masih anak-anak ia pun cepat lelah.
Kini hanya Paman Irfan yang masih melanjutkan. Tapi saat Oco melihat kembali ternyata boneka-boneka tangan yang dibuat Paman Irfan masih sedikit. Ia akhirnya bertanya.
“Paman kenapa buat boneka tangannya sedikit?” tanya Oco kembali.
“Iya, tidak apa-apa! Karena hanya ini yang paman bisa lakukan,” jawab Paman Irfan.
Oco yang mendengarkan ucapan Paman Irfan ia langsung ke kamarnya. Kemudian ia mencari celengannya yang berbentuk ayam.
“Ini buat Paman! Aku juga ingin mendapatkan senyum mereka dari bonekaboneka tangan buatanku nantinya. Boleh kan, Paman?” Oco sudah di hadapan Paman Irfan sambil menjulurkan tangannya sambil memegang celengan ayam.
“Ta…tapi ini kan tabungan kamu,” ujar Paman Irfan merasa terharu pada keponakannya itu.
“Terima lah, Paman! Aku ikhlas, kok! Apalagi aku sudah bilang bunda,” jawab Oco meminta agar pamannya itu menerimanya.
Saat itu bunda sudah ada di depan pintu sambil memberikan senyum pada adik lakilakinya, Paman Irfan. Dan Paman Irfan akhirnya tahu maksud dari senyuman itu.
“Baiklah kalau begitu kita beli lagi bahan-bahannya yang sekiranya masih kurang,” usul Paman Irfan.
“Baik, Paman! Tapi aku bolehkan ikut menemani Paman, kan?”
“Iya!”
Seusai membeli bahan-bahan untuk membuat boneka tangan, Paman Irfan dan Oco kembali membuat boneka tangan. Mereka akan membuat boneka tangan yang lebih banyak lagi agar makin banyak senyum yang mereka dapatkan.
“Bagaimana kamu sudah siap membuat boneka tangan lagi keponakanku yang baik hati?” Paman Irfan mencoba membangkitkan semangat Oco kembali untuk membuat boneka tangan.
“Iya, Paman!” seru Oco mantap.
Oco pun makin tidak sabar ingin membuat boneka tangan lebih banyak lagi dari tabungannya itu. Apalagi ia ingin memperoleh senyum lebih banyak pula.
Bukan hanya itu yang lebih membahagiakan Oco. Tapi ia juga akan diajak oleh Paman Irfan saat mendongeng nanti. Oco boleh ikut.
Dan Oco pun makin tidak sabar untuk melihat anak-anak seusianya tersenyum semringah karena mendapatkan boneka tangan buatan darinya. Oco semakin membayangkan senyuman itu.