Jam Tangan Fanya

Kelas menjadi heboh karena jam tangan itu mahal. Wali kelas mereka datang ke kelas. Ingin tahu penjelasan detail tentang masalahnya. Jadi, seperti biasa, saat ada yang hilang, maka semua tas siswa yang ada di kelas akan digeledah. Semua siswa pun keluar saat penggeledahan berlangsung.

Fanya menangis. Teringat dia akan dimarahi orangtuanya telah menghilangkan barang mahal. Ketua kelas berusaha menenangkan Fanya.

Hanya Fanya, wali kelas dan ketua kelas yang ada di dalam kelas. Akhirnya jam tangan itu ditemukan di dalam tas Jihan. Tidak ada yang tidak kaget. Bahkan rasanya Fanya hampir tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi, wali kelas mencoba menenangkan Fanya. Bisa saja Fanya lupa jadi jam tangan itu dititip ke Jihan. Tapi, Fanya ingat sekali bahwa dia sama sekali tidak menitipkan pada Jihan.

Lalu, Jihan disuruh masuk ke kelas. Teman-teman di luar kelas menjadi riuh. Mereka berusaha mengintip dari jendela. Penasaran jam tangan itu ada di mana. Kenapa pula hanya Jihan yang disuruh masuk ke kelas.

Wali kelas menunjukkan jam tangan itu dan betapa kagetnya Jihan. Kenapa pula jam tangan Fanya ada di tasnya. Apa jam tangan itu jatuh ke tasnya. Wali kelas menanyainya sekali lagi. Tapi Jihan karena sangkin kaget dan takutnya, dia hanya terdiam. Jihan bingung harus menjelaskan apa untuk membela dirinya.

“Jihan, jawab Ibu, Nak… Jujur sa….”

“Jam tangan itu punya Jihan, Bu!” jawab Jihan cepat dan tegas.

Semua yang mendengarnya terperanjat.

“Apa? Punyamu?!” amuk Fanya kesal.

“Iya. Itu jam tangan Jihan, Fan,” balas Jihan.

“Beraninya kamu bilang itu punyamu. Memangnya kamu sanggup beli jam tangan semahal itu, hah?!” Fanya semakin meninggikan suaranya.

Jihan kaget atas ucapan Fanya. Jantungnya berdebar kencang. Tubuhnya kaku. Tiga menit Jihan terdiam.

Wali kelas membujuk Jihan lagi untuk bicara. Jihan akhirnya membela diri dengan menjelaskan bahwa jam tangan itu memang miliknya. Dari rumah, dia bingung, apakah jam tangan itu akan dipakainya atau tidak. Dia tidak percaya diri memakai jam tangan mahal. Jadi, jam tangan itu hanya dibawanya ke sekolah dan diletakkan di tasnya. Dia tidak jadi memakainya karena betapa kagetnya dia saat ternyata jam tangannya mirip sekali dengan milik Fanya. Jadi, Jihan memutuskan untuk tidak memakainya. Bahkan untuk hari selanjutnya, Jihan lupa akan jam tangan itu. Dia juga lupa bahwa jam tangan itu masih di tasnya.

Arsip Cerpen di Indonesia