Jam Tangan Fanya

Jam tangan itu memang bukan dibeli dengan uangnya atau uang orangtuanya. Jam tangan itu pemberian. Ibu Jihan adalah asisten rumah tangga. Anak majikannya yang memberikannya. Anak majikannya bilang, bahwa dia sudah tidak mau lagi pakai jam tangan itu karena jam tangan itu pemberian mantan calon suaminya. Mantan calon suami anak majikannya itu memberi harapan palsu akan menikahinya ternyata malah menikahi orang lain. Jadi, untuk melupakan rasa sakitnya, pada awalnya dia ingin membuangnya, hanya saja jam tangan itu baru dipakai sekali dan masih tampak baru. Jadi diberikannya kepada ibu Jihan. Begitu Jihan menjelaskan.

“Kalau Ibu tidak percaya, Ibu bisa datang ke tempat Ibu saya bekerja hari ini,” sambung Jihan sesenggukan. Sedari tadi dia bercerita sambil menangis.

“Pandai sekali kamu karang cerita. Tadi kamu terdiam lama ‘kan? Itu kamu lagi berpikirkan. Dasar licik kamu. Aku nyesal pernah temanan sama kamu!!!” Fanya mengamuk lagi.

Wali kelaspun membubarkan pertemuan itu dengan kesimpulan akan mendatangi tempat kerja ibu Jihan.

Fanya benar-benar kesal. Dia merasa benar-benar marah dengan Jihan. Sampai di rumah Fanya tak berani bertemu dengan ibunya. Dia masuk ke rumah diam-diam. Dia memaki-maki Jihan. Gara-gara Jihan, dia bahkan harus masuk ke rumahnya diam-diam dan nanti malam dia harus siap dimarahi orangtuanya.

Dia terus-terusan memaki Jihan sampai masuk ke kamar. Hingga akhirnya, dia menyesal dan malu sekali karena tidak membawa jam tangannya ke sekolah hari ini. Jam tangan mahalnya teronggok rapi di atas meja belajarnya…!

 

Agustus 2018

Aisyah Haura Dika Alsa. Penulis alumnus FKIP UMSU

Arsip Cerpen di Indonesia