“Ada apa, Bu?”
“Itu, Bu Wulan! Anu …. Itu ….”
Napasnya masih begitu menderu. Sampai mengelurkan suara saja kesusahan.
“Itu ….”
“Ambil napas dulu, Bu. Istigfar.”
“Astagfirullahal adzim. Itu, Bu, ibu-ibu sedang demo di balai desa.”
“Demo? Malam-malam? Demo apa?”
Wajah Bu Minah tambah pucat. Titik-titik peluh nampak menghiasi beberapa bagian tubuh. Bahkan rambutnya sudah keliatan morat-marit, basah di bagian depan. Mungkin bekas gerimis yang bercampur keringat. Tangan kanannya sejak tadi sudah menggandeng tanganku, berusaha mengajak pergi. Sementara tangan kirinya mengangkat ujung daster, berharap dengan begitu jalannya bisa lebih cepat.
Api dari obor yang dibawa Bu Minah kadang bergoyang. Boleh jadi karena ada angin lewat, atau juga karena langkahnya tergesa-gesa. Dia memimpin jalan, sedangkan aku dan suami berada sertelahnya. Saling pandang kebingungan mendapati tingkah sosok di depan kami.
“Ayo, Bu Wulan, Pak Zaenuri! Kita tidak punya banyak waktu.”
Bu Minah mengingatkan sekali lagi. Bahkan adegan mengangkat tinggi-tinggi ujung dasternya makin gencar. Aku meniru. Mengangkat sedikit ujung rok panjang hitamku.
Rumah sisi kanan dan kiri yang kami lewati tampak sepi. Hanya menyisakan penduduk yang sedang punya bayi, atau manula yang sudah kepayahan berjalan. Aku makin bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Mengingat dua minggu terakhir, aku, Mas Zaenuri, juga Alim—anak kami—berlibur ke rumah orang tuaku. Ditambah setelah itu, kami sibuk mengurus pendaftaran sekolah Alim di aliah kabupaten. Benar membuat kami buta dengan masalah yang sedang melanda. Baru tadi sore kami kembali dengan menumpang angkutan umum berwarna oranye, yang kadang jika naik tanjakan harus terkentut-kentut memaksakan mesin tetap bekerja.
***
“Panggang saja anunya, biar tidak bisa bertingkah lagi!”
“Sudah bau tanah, masih saja bikin ulah.”
“Tidak tahu diri!”
“Menjijikkan!”