Teriakan-teriakan seperti itu yang ramai kudengar ketika menapakkan kaki di halaman balai desa. Ibu-ibu membawa lilin yang menyala, beberapa membawa obor. Mereka mengacung-ngacungkan yang dibawa.
Mas Zaenuri segera mengangkat kedua tangan.
“Tenang, Ibu-ibu! Masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik, lewat musyawarah.”
Beberapa dari mereka menurut. Memilih diam. Beberapa lagi memilih tetap menyerukan keinginan.
“Lha wong Pak Zaenuri baru pulang, makanya bisa santai-santai. Sedangkan kami ketar-ketir, Pak, kalau manusia keji itu masih berkeliaran.”
Seruan demo kembali terdengar. Bahkan lebih keras.
“Apa yang dikatakan Pak Zaenuri benar, Ibu-ibu. Silakan Ibu-ibu duduk, lalu kita cari solusinya dengan kepala dingin,” Pak Lurah akhirnya angkat bicara.
Ibu-ibu yang bisa dikatakan sedang ganas itu kemudian masuk ke balai desa. Duduk di lantai kayu yang berdecit jika diinjak. Sandal-sandal mereka ditinggalkan di undak-undakan depan pintu. Juga obor-obor yang mereka bawa, diletakkan di beranda. Sedangkan puluhan lilin dimatikan.