Mamak, aku sudah lama tidak memanggilnya. Terakhir kali aku berjumpa dengannya dua belas tahun yang lalu. Sebelum aku masuk penjara. Barangkali ini alasan utama Bapak membenciku. Kematian Mamak disebabkan olehku. Akibat kelakuanku. Kekecewaan yang begitu besar di hati Mamak, mungkin yang menyebabkannya meninggal. Hanya ada raut kesedihan dalam baluran wajah Mamak yang terakhir kali kulihat.
“Nak, panggilkan Erwin. Bapak ingin mengajaknya mancing di sungai,” pinta Bapak setelah minum obat.
“Bapak harus istirahat. Mancingnya setelah tidur siang ya,” bujuk istriku.
“Tidak mau. Bapak ingin mancing sekarang,” tolak Bapak.
Helaan halus keluar dari mulut istriku. Bapak memang keras kepala. Sekali Bapak menginginkan sesuatu, dia tak akan berhenti sebelum melakukannya. Mungkin sifat keras kepala Bapak yang menjadi tembok raksasa antara aku dengan Bapak.
Istriku memanggil Erwin, putra kami yang berada di dalam kamar. Sedangkan aku pergi ke gudang untuk mengambil peralatan memancing. Ada dua joran pancing yang ada di gudang. Erwin tak pernah memancing sebelumnya. Dua joran pancing ini milikku dan Bapak.
Aku membawanya ke istriku yang ada di dapur. Istriku meminta Erwin untuk menemani kakeknya memancing. Erwin pun menyanggupinya. Erwin adalah anak yang penurut pada ibunya. Dia tak pernah membantah perkataan, permintaan, dan perintah ibunya. Ini yang kuajarkan pada Erwin.
Bapak dan Erwin berada di belakang rumah untuk mencari cacing sebagai umpan. Erwin yang sangat suka bermain dengan tanah, secara sukarela menggali tanah. Mengambil dan menyimpan cacing-cacing yang berada di balik tanah ke cup minum. Mereka kini duduk di atas batu besar. Dengan joran pancing di tangan masing-masing.
Kurasakan pipiku basah. Posisi Bapak dan Erwin mengingatkanku ketika masih kecil. Dulu saat aku seusia Erwin, Bapak sering mengajakku memancing. Aku tak suka memancing karena membosankan. Duduk di atas batu sambil memegang joran pancing. Benar-benar melatih kesabaran. Hasil tangkapan Bapak selalu mengalahkanku.
“Kau harus sabar, Nak. Dalam memancing, butuh kesabaran dan fokus. Ini juga berlaku dalam hidup kita. Jika kau ingin menjadi orang sukses, kau harus sabar dan fokus. Mencari rezeki itu mudah. Tapi yang sulit adalah mencari rezeki yang halal. Maka kau tak boleh melupakan petuah ini,” ucap Bapak kala itu.
Ajaibnya begitu aku memprektekkan petuah Bapak, ikan-ikan mulai kudapatkan. Sejak saat itu, aku harusnya berpegang teguh pada petuah Bapak. Tapi aku melupakannya.