“Mas, kamu menangis?” tanya istriku.
“Tidak. Aku hanya merindukan memancing bersama Bapak. Tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Bapak bahkan masih belum mau memaafkanku,” jawabku kelu.
“Kamu tidak perlu cemas. Jauh di dalam lubuk hatinya, Bapak sudah memaafkanmu. Kamu hanya perlu bersabar sedikit,” ucap istriku menenangkan.
Aku tersenyum getir. Berharap hari itu cepat akan tiba. “Sayang, temani Bapak dan Erwin. Jangan sampai Bapak kelelahan.”
Istriku menyusul Bapak dan Erwin. Aku sendiri memilih untuk masuk ke dalam rumah. Jika aku terus memperhatikan mereka dari jauh, pertahanan diriku akan runtuh. Aku akan menghambur bersama mereka. Ikut bergabung memancing bersama. Pasti menyenangkan. Jika aku mengikuti isi hatiku, sama saja menghancurkan suasana yang terbangun ceria. Bapak pasti akan berlaku dingin padaku.
Aku masuk ke dalam kamar. Lalu membongkar album-album foto lama yang sudah mengusang. Di dalamnya berisi foto-foto lawas. Ketika aku masih kecil. Ketika Bapak dan Mamak masih menganggapku sebagai putra kesayangan mereka. Ketika keluarga bahagia masih terjaga.
Kuambil foto Bapak dan Mamak dari dalam album. Setelah itu, kuambil album foto terbaruku. Album yang berisi keluarga kecilku. Kuguntung foto Bapak dan Mamak. Kemudian menyatukannya dengan foto keluarga kecilku. Kutempel kembali di atas kertas karton putih seukuran pigura foto pernikahanku. Tidak lupa, di bawahnya kutulis “Keluarga Bahagia”.
Ini yang kuinginkan sejak dulu. Sebuah keluarga bahagia. Rumah yang di dalamnya berisi keceriaan dan gelak tawa. Tak ada kesedihan. Mulai dari sarapan sampai makan malam, meja makan akan berdentang dengan kegembiraan. Malam hari yang dipenuhi obrolan ringan yang dirindukan.
Sekarang aku hanya mampu mewujudkannya dalam bentuk replika. Kugantung replika keluarga bahagia ini di dinding kamar. Di sebelah foto pernikahanku. Hanya di kamar ini aku bisa menggantungnya. Selain karena setiap hari aku bisa melihatnya terus, aku tak mungkin menaruhnya di ruang tamu atau katakanlah di ruang yang dapat Bapak lihat. Jika Bapak mengetahui keberadaan replika keluarga bahagia ini, dia mungkin akan melemparkannya jauh dari rumah ini atau membantingnya. Bapak tidak mau satu foto denganku.