Ziarah

Air muka yang menggenang di wajah Ibu pun sama dengan para penduduk yang aku temui di pinggir sungai. Wajah Ibu terlihat datar layaknya para penduduk, hingga aku bingung untuk mendefiniskannya: Apakah Ibu kini sedang bersedih atau bergembira? Aku akhirnya hanya diam saja tak mengusik.

Namun hari itu setelah berdoa, Ibu tiba-tiba bertingkah aneh. Ibu terlihat sering melamun.

Kemudian ketika sampai rumah, Ibu mengatakan sesuatu kepadaku. “Aku melihat bapakmu!”

“Melihat bagaimana, Ibu?”

“Aku melihat bapakmu berdiri di dasar sungai tadi. Ia melambai-lambaikan tangan kepadaku.”

“Hus! Jangan bilang aneh-aneh!”

“Kau ingat? Naga Putih itu adalah kendaraan orang-orang mati. Mungkin ayahmu diantarkan untuk melihat kita.”

“Ibu hanya melamun!”

Ibu diam. Tak menanggapi. Namun ada yang ditahannya ketika menatapku. Sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

***

Selesai nyadran di kampung, aku kembali ke perantauan. Namun tiga hari kemudian, aku mendapatkan kabar Ibu masuk rumah sakit dengan keadaan kritis.

Malam itu seorang warga desa meneleponku. Ia mengabarkan padaku kalau Ibu berusaha  menenggelamkan dirinya ke Kali Putih.

“Ibumu tiba-tiba saja melompat ke dalam kali. Ia tenggelan dan nyaris mati. Untungnya ada warga yang melihat serta lekas menyelamatkannya.”

Mendengar cerita Ibu yang mengalami kecelakaan, aku kembali pulang ke kampung. Aku menemui Ibu terbaring lemah di rumah sakit. Namun, Ibu beruntung. Ia tidak apa-apa. Lima hari kemudian bahkan Ibu terbangun dari komanya. Tapi waktu terbangun Ibu becerita hal ganjil kepadaku.

“Kemarin aku bertemu bapakmu.”

“Bapak? Bertemu di mana, Ibu?”

“Aku bertemu bapakmu di dasar sungai. Ia benar-benar datang ke dunia ini dengan naga putih itu. Ia merindukan kita.”

Arsip Cerpen di Indonesia