Macet

Saya langsung buka Youtube. Saya cari satu video dengan nama kota Bondowoso- Situbondo. Dan sungguh, hal yang tidak masuk akal benar-benar terjadi. Dalam video itu, bus melaju kencang sebelum akhirnya ambruk dengan sendirinya, tepat di sebuah belokan perbatasan kota. Anehnya, sesuatu yang ditabrak itu tidak ada. Abstrak. Semacam menabrak kumpulan angin besar tetapi sangat halus sehingga terlihat begitu bening dan transparan. Saya melongo melihatnya. Dan lebih melongo lagi ketika saya melihat semua video di perbatasan kota-kota lain ternyata juga mengalami hal yang sama.

Inikah keajaiban? Atau inikah bencana? Bencana macam apa yang dapat menyerang seluruh kawasan perbatasan sekaligus? Atau di seluruh dunia?

“Astaga! Indonesia telah terpecah belah, Bung!”

“Kota-kota seperti ingin berdiri sendiri!”

“Sungguh gawat pemirsa!”

“Bung Hardi, kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah?”

Sungguh saya tak tertarik dengan berita yang terlalu berlebihan menanggapi keajaiban ini. Bahkan ketika memang benar Indonesia terpecah, saya tak peduli. Toh, saya tidak bekerja kepada negara. Atau ketika memang kota-kota telah berdiri sendiri, saya pun tak peduli. Saya memang mempunyai sebuah rumah di Situbondo. Di sana, saat ini ada seseorang yang sedang menunggu kedatangan saya. Ya, istri saya. Ia menunggu bukan karena rindu, melainkan ingin mengurus gugatan cerai agar cepat berlalu. Tak jelas kenapa istri saya itu minta cerai. Untung saja saya tak mencintainya. Entahlah. Sepertinya hidup saya ini memang tak jelas. Orang tua pun tak jelas siapa. Saya hidup sendiri semenjak nenek saya—bukan nenek kandung tetapi merawat saya sejak bayi—meninggal ketika saya masih bocah. Kata beliau, saya adalah bayi menangis yang jatuh dari langit saat bulan purnama. Ah, tentu itu bukan cerita yang sebenarnya. Jelas, dulu saya adalah bayi yang dibuang oleh orang tuanya. Tetapi sudahlah, saya tak akan memperpanjang cerita tentang masa lalu. Toh sekarang, saya sudah tidak punya siapa-siapa yang dirasa penting lagi dan juga tak ada hubungannya dengan kemacetan yang saya alami saat ini.

Saya hanya menginginkan ketenangan. Itu saja. Sementara situasi di sini semakin memburuk. Ricuh. Tak karuan. Ada yang tawuran. Ada yang berebut tempat. Keadaan memang telah berubah total. Dalam hal ini, kesabaran telah hilang dari tubuh manusia. Seorang ustaz putus asa. Seorang kiai pun begitu adanya.

Arsip Cerpen di Indonesia