Ketika berada di ketinggian, sejenak saya seperti merasa kehilangan kesadaran. Ingatan-ingatan saya seperti dicabut dengan paksa. Saya pun mendadak lupa cara berbicara. Lidah saya terasa kelu, kepala saya terasa ngilu. Dan ketika saya sudah berada jauh di atas permukaan, tiba-tiba saja sorot mata saya bergerak sendiri menuju ke sebuah mobil yang terbalik dan terlihat hancur tak karuan. Oh, mobil itu telah menyebabkan kemacetan di sekitarnya. Di sana juga terlihat dengan jelas tubuh seorang laki-laki yang terbaring kaku bersama kerumunan orang yang sibuk memandanginya dengan kemirisan. Dan entah kenapa, dari kerumunan orang-orang itu, hanya ada satu orang wanita yang seperti sangat saya kenal. Saya pun mencoba memutar ingatan. Namun sungguh, saya tak mampu mengingat. Siapakah wanita itu, yang air matanya terus mengalir, melewati pipi, ke dagu, sampai akhirnya jatuh satu demi satu lantas membasahi sebentuk kepala yang telah terpisah dari tubuhnya yang kaku dan berdarah?
Sedangkan di langit, senja dan darah tak ada bedanya. (*)
Jember, 2018
Alif Febriyantoro, tinggal di Jember, kelahiran 23 Februari 1996 di Situbondo. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpen terbarunya berjudul Romila dan Kutukan Ingatan (Basish Publishing, 2019).