Momen ini sangat menyedihkan waktu itu, pembayaran uang kuliah sudah tiba. Bukan hal yang berat, hanya sederhana untuk membayarnya. Tapi itulah sifat keluarga kepadaku. Aku bukan menggambarkan mereka jahat. Tapi inilah fakta kehidupan. Kabar dari mulu ke mulut bahwa aku mencari orang yang pernah menyakiti ibuku. Informasi yang tidak jelas entah dari mana, sesukanya menyusun opini menjadi fakta. Semakin tertekan hidup ini bagiku. Aku tinggal di depan nenek dan kakek. Begitu teganya menyebarkan kabar berita buruk tentang aku. Yang dulunya Tante mendukung aku untuk melanjut dan membantu aku, kepercayaannya hilang.
Aku hanya menyimpan sejarah air mata. Begitu sulitnya yang kujalani. Banyak yang disinggung tentang diriku dengan jurusan yang tidak berfaedah.
“Mau jadi apa sastra Indonesia.”
“Semua rencana Tuhan itu adil,” berkata dalam hati.
Begitu banyak isu-isu tentang aku, masih ada orang yang mendukungku kakek dan nenek. Bagiku itu sebuah cobaan saja, bukan berarti aku menyimpan rasa benci kepada orang yang kusayangi.
Hari telah berlalu, meski dengan berat hati keluargaku melanjutkan perkuliahan. Tetapi tetap kujalani dengan kesabaran. Mendengar kabar ternyata ibu sedang sakit. Hatiku semakin rapuh, benci dengan masalah hidup ini. Tidak ada lagi harapan untuk melanjut.
Ibu memaksaku pulang kampung membantu ibu. Langkahku berat untuk pulang dengan alasan jika telah tiba disana aku tidak akan bisa pulang lagi ke Medan membatalkan perkuliahan. Di sisi lain lagi aku kasihan melihat ibu sedang sakit mengurus saudaraku dan pekerjaan rumah. Aku juga takut berjumpa dengan ayah.
Ponselku berdering, ada SMS masuk.
“Tidak tau diri kau ya, ibumu sakit tidak pernah kau jenguk. Kalau kau tidak pulang dari sana kami tidak akan mengurusnya. Pengen kuliah tapi nggak berkaca dengan situasi. Gara-gara kau ibumu jatuh sakit.”
Aku hanya cukup bersabar dengan semuanya. Semua terlalu berat hanya air mata yang bisa meluapkan emosi ini. Aku hanya berdoa kesembuhan ibu. Meski tidak bisa melihat ibu aku tetap sayang. Dialah penyemangat hidupku.