“Entahlah, kawan-kawanku ini. Kok bisa-bisanya percaya sama yang begitu.”
“Kalau tak suka jangan mau, Bng. Bilang saja tak tahu.”
Dia bukannya senang jadi makelar klenik begitu, kerjasama dalam kemusyrikan sama berdosanya dengan melakukannya. Apa mau dikata, orang-orang terus saja berdatangan meminta diantarkan ke rumah orang pintar. Handoko tak enak hati menolak.
Hari itu dia ditelepon salah satu kenalan kawannya. Meminta diantarkan ke rumah orang pintar yang bisa menemukan barang yang dicuri maling. Handoko membawa mereka ke orang pintar di seberang kampungnya. Seorang lelaki setengah abad yang masih tegap karena ilmu kanuragan yang dimiliki. Kabarnya dia tahan bacok, dia buktikan dengan menusuk perut dan tangannya dengan sebilah keris. Menjulurkan lidahnya ke keris juga, tak tersayat sama sekali. Bertambah percayalah tamu yang dibawa Handoko.
Lelaki empat puluhan itu, keluar karena tersedak asap kemenyan dan bau kembang tujuh rupa dari dupa yang menyala. Atas jasanya, Handoko diberi hadiah yang lagi hendak ditolak.
***
Hampir setiap hari hp lelaki itu berdering. Panggilan dari orang-orang yang memerlukan jasanya dalam memilihkan orang pintar yang tepat di kampungnya atau di kampung sebelah atau sebelahnya lagi. Hadiah yang tadinya ditolak, jumlahnya lama kelamaan makin meningkat, kini diterimanya sepenuh hati.
Handoko tolong temukan dengan orang pintar di kampungmu, saya mau masuk pegawai negeri. Handoko tolong bawa saya kepada orang yang bisa membuat laris kedai saya. Handoko tolong…, saya mau punya istri lagi. Handoko…, tolong saya mau naik jabatan. Karena sedang musim pemilu penelepon Handoko bertambah lagi. Para calon legislatif yang akan maju di panggung pemilu. Para caleg tiak segan-segan memberi hadiah melebihi yang biasa diterima Handoko. Membuatnya semakin sibuk, abaikan sawah dan ladang yang selama ini menghidupi mereka. Istrinya resah.
“Apa tidak sebaiknya kau tinggalkan saja pekerjaanmu itu Bang.”
“Tak selamanya seperti ini, dek. Pemilu ‘kan cuma lima tahun sekali. Kita manfaatkan saja kesempatan.”
“Iya…, tapi bagaimana kalau dia tak menang. Pilihan rakyat mana bisa direkayasa.”
“Halah!”