Handoko mengibaskan tangan sambil berlalu. Lagi bersikap abai. Tak lagi mau peduli pada dosa yang dulu dikhawatirkannya. Istrinya khawatir suaminya ’sial’ jika penerawangan orang pintar tak bekerja pada seseorang. Kekahawatiran istrinya memang tidak terbukti, setidaknya sampai saat ini.
Orang-orang makin sering menggunakan jasa Handoko. Orang pintar di daerahnya belum pernah mengecewakan tamu yang datang meminta diterawang nasibnya. Buktinya sampai dua tiga kali mereka minta diterawang. Karena sudah tau jalan menuju rumah si orang pintar, mereka tak lagi menggunakan jasanya sebagai penunjuk jalan. Handoko mulai sepi job.
Dia mencoba tersenyum pada mobil-mobil yang melintas di depan rumahnya, hanya mengklakson tanda permisi masuk ke kampungnya. Kemudian mengklakson lagi sebagai ungkapan pamit mau pulang. Kebetulan rumahnya di pinggir jalan utama.
Kebanggan Handoko mulai goyah. Dia yang tadinya merasa berjasa telah menolong orang yang kesulitan dengan menjadi semacam makelar, merasa diabaikan. Dia mulai ketagihan hadiah-hadiah yang diberikan layaknya minum tuak. Ada yang hilang ketika tak lagi dimintai pertolongan untuk menghantarkan orang-orang kota itu kepada orang pintar yang dimaksud.
Hatinya mulai geram. Enak saja mereka melewatinya. Apa yang bisa dilakukannya, tak mungkin melarang mereka lewat di depan rumahnya, atau menyuruh orang pintar untuk tidak menerima tamu. Bukan hal yang burk menemui orang pintar, mengapa tidak?
Pagi-pagi sekali keesokan harinya dia menuju rumah orang pintar. Mula-mula yang di seberang kampungnya. Tidak ada kemenyan, pun bunga tujuh rupa. Sedang tidak ada tamu. Kebetulan, pikir Handoko.
Pak Amir, nama orang pintar itu. Dia langsung mempersilakan Handoko masuk ke ruangan tempat dia biasa menerima tamu. Meski sedikit heran, padahal beliau pasti tau kedatangannya bukan untuk minta diterawang. Dia bergegas menjelaskan, agar tidak muncul salah prasangka,
“Pulanglah!”
Kalimat pungkas pak Amir setelah beberapa pernyataan hasil penerawangan beliau yang dipungkiri Handoko setengah mati, karena beliau tanpa jeruk purut atau keris yang biasa dipertontonkan sambil menusuk-nusuk tubuh dan lidahnya yang kebal. Malah mengusirnya. Tak memberi waktu untuk menuntaskan isi hati, alasan kedatangannya ke tempat itu. Agar bekerja sama, jangan menerima tamu jika tak beserta dirinya.
Mengetahui misinya tidak berhasil, dia menuju kampung yang satu lagi. Menemui seorang perempuan sepuh berkulit kunyahan sirih, pinang, dan tembakau.
“Akan ada sesuatu yang kurang baik menantimu di hadapan.”