“Tidak, Sayang. Tidak. Malahan kalau Fadil hanya tidur-tiduran sepanjang waktu, jam seakan berhenti berputar. Waktu berbuka akan terasa lama sekali.”
Fadil terdiam. Lama ia merenungi apa yang dikatakan oleh bundanya barusan. Jika dipikirpikir, seharian ini Fadil menghabiskan waktunya di depan layar televisi. Menonton film kartun dan beberapa tayangan komedi yang lama kelamaan membuatnya merasa bosan juga. Dan ketika melihat jam dinding di pojok ruang keluarga, rasa-rasanya jarum jam begitu lambat berputar, mengitari angka-angka. Tak jarang ia menahan lapar yang semakin melilit perut.
“Nah, sekarang Bunda mau minta tolong ….”
“Tapi, Bun ….”
“Antarkan rantang ini ke masjid. Buat berbuka guru mengaji Fadil nantinya,” terang bundanya menyodorkan rantang.
“Berat, Bun,” keluh Fadil merasa keberatan dengan tugasnya.
“Sayang, tidak boleh mengeluh. Fadil pasti kuat.”
Dengan wajah cemberut, Fadil melaksanakan perintah bundanya. Mengantarkan rantang yang berisi nasi dan lauk pauk serta kolak pisang untuk berbuka Ustaz Atri, guru mengajinya yang tinggal di masjid.
Azan asar sudah berkumandang sejak sejam yang lalu. Akan tetapi matahari masihlah terasa panas di puncak ubun-ubun. Setengah berlari Fadil menuju masjid. Membuat napasnya terengahengah dan butir-butir keringat membasahi sebagian tubuhnya.
“Assalamualaikum, Ustaz,” sapa Fadil ketika mendapati guru mengajinya sedang menyapu teras masjid.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Ustaz Atri menoleh sembari melemparkan senyum ke arah Fadil.
“Fadil mau mengantarkan titipan dari Bunda, Ustaz. Katanya buat berbuka.”
“Alhamdulillah, terima kasih sudah repot mengantarkan. Tolong letakkan di meja ya, Dil.”
“Baik, Ustadz,” sahut Fadil bergegas meletakkan rantang yang dibawanya sesuai dengan perintah guru mengajinya itu.
Selepas melaksanakan tugas dari bundanya. Fadil memperhatikan guru mengajinya yang tengah sibuk membersihkan masjid. Muncul keinginan dari hatinya ikut membantu.