Sang Pelarung Sepi

Namun, sayang damai masih belum bertaut di hati bapak, pulang ke rumah sendiri semakin meginfeksi lukanya, setiap sudut rumah selalu mengingatkannya pada ibu. Parahnya lagi alam di sekelilingnya seakan berkomplot menyerangnya. Sinar mentari yang dulu menghangatkan kini menjerang rindu, embusan angin tak lagi lembut menenangkan tapi pedih menguliti. Tetes- tetes hujan tetiba  mengandung cuka mengucuri luka bapak.

Bapak takluk pada kehilangan. Hanya satu yang harapannya. Berharap ada seseorang menemani menghabiskan hari tuanya, seseorang yang bisa diajaknya bercakapcakap, menyambutnya saat pulang ke rumah, dengan senyum penghilang segala penatnya hidup. Ada seseorang yamg melipur laranya. Bapak ingin menikah…….

“Tidakkah 7 bulan itu terlalu cepat mas? Kenapa bapak ingin menikah, bukankah ada kita yang siap merawatnya” mbak Meta kembali mengulang pertanyaannya, membuatku mengalihkan pikiran tentang bapak.

Sepi sejenak, terdengar suara suami membuang napas, “Tujuh bulan mungkin cepat bagi mereka yang sedang bahagia. Waktu melesat berlari, tanpa di sadari hari telah berganti dan bulan berubah nama.”

“Tapi tujuh bulan bagi bapak yang kehilangan justru tidakkah terlalu lama? Setiap detik begitu menyiksa. Hari –hari yang panjang serasa tak berkesudahan, membuat bapak lelah jiwa dan raga. Manusiawi bila ia butuh seseorang di sampingnya, seseorang yang selalu ada, bukan seperti kita anak-anaknya yang lebih sibuk menjalani hidup.”

“Bukannya kita yang tega jika membiarkan bapak hidup dalam kesendirian, menikmati hari tuanya terlunta-lunta dalam sunyi?” sejenak suami memandangku lalu berganti ke mbak Meta.

Mbak Meta terdiam, setengah hatinya membenarkan ucapan suamiku. “Tapi bagaimana kenangan tentang ibu, Mas?”

Suami tersenyum bijak. “Kau pikir hanya kamu yang terus mengingat ibu, aku juga Met. Tapi tidakkah kita terlalu kejam pada bapak bila tak meluluskan permintaannya? Merawat kenangan seseorang yang telah pergi itu boleh tapi jangan sampai mengabaikan kisah orang yang tinggal. Ingat Met…hati bapak sedang layu, jangan biarkan  kering meranggas lalu mati. Izinkan bapak menikah, ia butuh kasih sayang bukan hanya dari anakanaknya tapi juga dari orang lain, bukan sebagai pengganti ibu, tapi demi melanjutkan hidup dengan bahu tegak tak lagi terbebani kehilangan.

Mbak Meta terpekur menatap lantai, setitik air matanya jatuh bersama sebuah kerelaan, ia mengangguk. Haru menyergap hati, menggulirkan tetes-tetes bening yang segera kuseka dengan punggung tangan kala mendegar perbincangan meraka.

Arsip Cerpen di Indonesia