Bapak tersenyum. Senyum paling sempurna yang disunggingnya setelah kepergian ibu. Hari itu bapak mengenakan songkoulweng di kepala, jaseta tutup dengan bawahan lipasabbe. Lelaki penyabar itu tampak gagah. Tak perlu menyelam ke dasar hatinya untuk mencari tahu apakah ia bahagia? Karena sejatinya rasa itu itu sudah mengapung di sudut matanya.
Bapak bersiap menrekawing, diantar ke rumah mempelai wanita. Seorang wanita paruh baya, masih gadis dengan selisih umur lima belas tahun. Kami tak perduli komentar miring tentang desas- desus kenapa si wanita mau menerima bapak. Pasti ada apa-apanya demikin menurut mereka.
Sebelum melamar kami sudah beberkan semuanya. Bapak bukan pejabat, jikalau ia mencari nama. Bapak tak kaya jika ia menginginkan harta, usia bapak sudah kepala tujuh jika ia mencari yang sepantar dengan dirinya. Mereka dipertemukan langsung, kemudian lamaran diiyakan oleh calon istrinya sendiri.
Kami terus berprasangka baik, satu hal yang kami yakini bahwa bahwa jodoh itu tak pernah tertukar, tak pernah salah karena yang memilihkannya adalah sang Maha Sempurna. Apalagi bapak orang baik, sangat baik dan sesuai ketetapan-Nya bahwa lelaki baik akan selalu dipasangkan dengan perempuan baik. Selamat menempuh hidup baru Pak, sakinah menyertaimu. (*)
Sengkang, 25 April 2019
Andi Muladettia, lahir di Anabanua 10 Februari 1984. Laboran di SMA 4 Wajo. “Beri Aku Pemahaman tentang Cinta” adalah puisi pertama yang dibukukan—Yang Tak Terucap. Disusul kemudian cerpen “Impian Sembilan Setengah” dalam buku antologi- Malaikat tak Bersayap (Pena Indis, 2019).