“Mungkin.” Lanjutnya, “aku akan terus menulis. Supaya kau tetap abadi…” sambung laki-laki itu tanpa mendengar perkataan wanita di sampingnya.
Abadi? Ada apa dengan abadi? Apakah keabadian adalah kata yang wajib diutarakan menjelang perpisahan? Apakah itu hanya menjadi pelengkap perpisahan di kala senja yang sedemikian beratnya?
Seperti kepastian kematian, senja pun tak pernah datang terlambat setiap sore. Bergerak sangat pelan dan melengkungkan semua kenangan yang tegak sejajar dengan perpisahan. Melebur semua peluh dan penat bagi orang-orang yang masih ingin hidup merenungi senja. Akan selalu ada… akan selalu datang meski sesaat sebelum gelap.
***
“Kau tahu sayang? Konon dulunya Jembatan Kembar ini menjadi tempat perpisahan paling tragis. Bahkan, konon laki-laki yang ditinggalkan itu tetap kemari setiap senja. Ah, betapa kuatnya cinta mereka… kukira senja sudah sangat menyayat, tak bisa kubayangkan bila ditambah dengan adegan perpisahan. Kukira cinta mereka benar-benar abadi dan layak untuk dituliskan.”
“Sungguh? Aku kasihan pada mereka kalau begitu. Kukira laki-laki itu akan terus hidup dalam siksaan kenangan. Dan kemudian mati perlahan namun menyakitkan akibat siksaan kenangan. Disiksa kenangan benar-benar cara paling tragis untuk kembali ke Tuhan.”
Selain cerita sepasang kekasih di masa lalu, akan selalu ada sepasang suami-istri yang juga terpikat pada senja dan kenangan, berbincang setiap sore menjelang senja di tepi Jembatan Kembar. Merenungi usia yang benar-benar singkat. Seperti senja sementara yang hadir sebelum gelap. Dan mereka, akan selalu menikmati segala hal yang hadir saat senja, sebelum siluet burung-burung yang terbang bebas hilang, sebelum pantulan cahaya senja pada permukaan aliran Sungai Bedadung tertutup gelap, sebelum selembar daun jatuh pada aliran sungai keruh yang membawanya terus melaju sepanjang waktu, dan sebelum keriput hanya soal kerutan-kerutan kenangan dan cerita masa muda hanya habis untuk waktu kerja.
“Lantas bagaimana dengan laki-laki itu? Apa dia masih datang ke sini saat senja? Aku penasaran… apakah masih ada janji yang tak hanya sebatas ucapan bibir di dunia?” Tanyanya, “Atau mungkin justru dia sudah mati terhimpit kenangan dalam dirinya sendiri?”
“Entah, aku juga tidak tahu pastinya. Sejak kita di sini; aku tak pernah melihat seorang laki-laki bisu yang datang. Hanya sekilas cerita bahwa laki-laki itu akhirnya mati terjun dari atas Jembatan Kembar ini.” katanya, laki-laki itu menambahkan, “Tapi juga perlu diingat. Barangkali itu semua hanya cerita karangan untuk menarik turis-turis datang ke Jembatan Kembar ini.”