“Bisa jadi, tapi itu tetap tragis.”
“Bagaimana menurutmu, apakah kita bisa juga seperti mereka sampai tua? Maksudku, apakah cinta benar-benar bisa bertahan menembus usia tanpa terhalang keriput-keriput? Kukira aku ingin mati bersamamu. Ah, barangkali ini terdengar picisan tapi aku benar-benar serius.”
Mati lagi yang diperbincangkan. Seolah terulang, apakah manusia-manusia bisa memesan jadwal kematian kepada Tuhan? Apakah hanya mati yang bisa menjadi tolak ukur kedalaman cinta?
Mendadak Sunyi. Wanita itu tak menjawab.
Sepanjang aliran Sungai Bedadung yang keruh, seiring senja melepaskan gairah cahaya yang biasnya menukik tajam dari langit menembus kenangan-kenangan, dan untuk itu, adakah hal yang lebih mungkin daripada bayangan seorang laki-laki yang tiba-tiba berjalan sendiri pada tepi jembatan itu? Tubuhnya yang seolah tembus pandang berjalan sangat pelan dan hati-hati. Menepi di sisi jembatan dan memalingkan wajah menghadap senja.
“Lihatlah, di titik itu senja akan benar-benar berakhir.” Kata laki-laki itu pada istrinya sambil menunjuk satu titik yang paling merah di sisi langit.
“Dan di sanalah, tepat di sana Tuhan mengumpulkan semua kenangan dalam balut panorama senja. Dan kukira, titik itu adalah titik sama yang selalu dilihat laki-laki yang ditinggalkan itu apabila cerita itu memang nyata.” Tambahnya.
Sesaat wanita itu hanya diam, seiring begitu pekatnya merah senja, ingatannya terbang ke masa silam, kepada suara hangat yang ia bisikkan kepada seorang laki-laki tuli yang ia tinggalkan di masa lalu.
“Selamat tinggal…”
Suara itu, suara terakhir yang bisa ia berikan. Meski ia tahu, bahwa laki-laki itu tak akan pernah bisa mendengar suaranya. Mungkin hanya merasakan betapa hangat bisikkan itu masuk perlahan ke dalam telinganya. Dan saat ini, sesaat sebelum senja benar-benar hilang, samar-samar ia melihat siluet hitam seorang laki-laki yang begitu ia kenali. Dan serupa selembar daun yang gugur dari sebuah pohon, ia akan menangkap bayangan itu terjun dari atas Jembatan Kembar dengan tenang. Melayang singkat di udara dan hilang sebelum sampai pada aliran Sungai Bedadung yang keruh dalam balutan gelap sesaat setelah senja di Jembatan Kembar ini benar-benar hilang. (*)
Jember, 13 September 2018
Haryo Pamungkas, lahir di Jember, Jawa Timur. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNEJ. Menulis cerita pendek dan puisi. Beberapa karyanya telah dimuat di media cetak dan digital.