Aku membisu. Pria itu yang aku anggap masinis itu masih bersikap ramah kepadaku. Ia pun menepuk bahuku beberapa kali.
“Aku tidak akan memaksamu ikut kereta ini,” ucapnya. “Namun bila kau berubah pikiran, kau cukup datang ke tempat ini. Kereta ini akan menjemputmu.”
Aku mengangguk. Pria itu pergi. Lamat-lamat mesin kereta menderu, disusul lengking nyaring. Kereta itu melaju di tengah laut, menjauh, menyisakan perasaan ganjil tak bernama di hatiku.
***
SEMINGGUsetelah kejadian itu aku makin terpuruk. Kakekku mendadak meninggal. Ia pergi dalam keadaan duduk saat menyantap makanan yang disukainya.
Padahal ia satu-satunya orang yang memahami segala kesedihanku. Ialah yang merawat dan menjagaku sejak kecil hingga tumbuh dewasa. Ia sosok terakhir yang bisa kukatakan angat kucintai dalam hidup ini.
Aku terpuruk sedih. Aku seakan tak memiliki siapa pun lagi di dunia ini. Aku merasa sebatang kara. Hari itu pun setelah pemakamannya aku termenung lama. Aku duduk berlinang air mata. Aku merasa sangat sedih harus melewatkan bulan Ramadan tanpa dia. Sementara itu, menyadari kesedihanku yang sangat mendalam, banyak kawan berusaha menghibur.
“Lupakan,” kata sahabatku. “Ia telah tuntas menjalankan hidup. Jangan kautangisi. Itu hanya membuatnya terluka.”
Aku membiarkan temanku terus berbicara. Aku tidak peduli. Mataku terus tertumbuk ke tanah merah yang menggunduk di makam Kakek. Walaupun sebenarnya, diamku terjadi karena tidak tahu harus mengatakan apa pada kawanku. Yang bisa kulakukan kini hanya terdiam. Begitulah. Di tengah lamunan, aku teringat kereta Laut Selatan. Aku ingat pria yang mengatakan akan mengantarku ke sebuah kebahagian. Malam itu aku memutuskan hendak naik kereta itu.
***
MALAM ini, Laut Selatan seperti dikuasi kegelapan begitu kental. Aku tidak menemukan seorang pun. Pantai Parangtritis begitu sunyi. Hanya terdengar desir angin dan ombak. Aku termenung di tempat ketika melihat kereta itu berhenti. Aku berharap kereta itu malam ini datang lagi.