Ingatanku pada Pak Bilal kembali mengapung. Namun waktu tak lagi mengapungkan suaranya dalam kumandang azan dari loadspeaker Toa di puncak menara masjid. Aku merasa kehilangan, meski tetap berusaha tidak kehilangan akan arti kehadiran Pak Bilal yang dulu mampu menyetel suatu masa begitu indah.
Aku teringat kisah Umar bin Khattab yang pernah merasa sangat kehilangan Bilal bin Rabah. Saat sang Muazin kembali ke Madinah, Khalifah kharismatik ini memintanya lagi mengumandangkan azan. Bilal pun naik ke tempat di mana dulu sabankali dia mengumandangkan azan pada masa Rasulullah.
Saat lafaz “Allahu Akbar” dilantunkan, sontak Madinah senyap. Ketika kalimat “Asyhadu an laa ilaha illallah” diseru, warga Madinah berlarian ke arah suara yang memanggil-manggil itu. Ketika mengumandang “Asyhadu anna MuhammadarRasulullah”, pecahlah ratapan pilu. Umar bin Khattab longsor dalam tangisnya. Warga menangis, terkenang masa-masa indah bersama Rasulullah. Bilal Radiallahu Anhu terbata-bata, lidahnya kelu, tercekat desakan derai airmata. Rindu saat Rasulullah hadir di antara mereka. Itulah azan pertama juga terakhir setelah Rasulullah mangkat, azan yang tak sanggup dituntaskannya.
Pak Bilal sang muazin dari masjid Istiqomah telah mangkat, berangkat ke alam barzah dijemput malaikat Izrail menemui sang Khalik. Tapi rindu akan suaranya serasa masih memanggil-manggil dengan merdu, indah dan hikmad. (*)
Tamamaung, Panakukang, Sulawesi Selatan.
Yudhistira Sukatanya. Sutradara teater, penulis.