“Demi kamu duhai sahabat, menakhlukkan gunung pun kan kulakukan. Apa sih yang nggak buat kamu.”
Fendy menjadi satu-satunya teman yang paling mengerti bagaimana aku. Walaupun ada banyak hal yang kusembunyikan darinya. Namun dia tahu segalanya. Fendy begitu baik padaku, aku sering merasa tidak enak hati kepadanya akibat perlakuanku yang bahkan tidak sebanding.
“Maafin aku Fendy yang baik hati, aku bahkan lupa kasih kabar ke kamu. Sumpah, aku nggak bermaksud begitu?”
“It’s ok, yang penting kamu tahu kalau kamu punya kesalahan sama aku.”
Fendy dan aku cukup dekat sejak kami bertemu pertama kalinya. Perihal sepele sebenarnya, tapi hal itu menjadikan kami sahabat. Aku bertemu Fendy di Perpustakaan Kota. Ketika itu aku kehilangan kunci loker, dan akibat keteledoranku, aku malah menyalahkan Fendy yang pada saat itu sedang memasukkan barangnya ke loker. Aku menuduh Fendy merebut loker yang diperuntukkan untuk tasku. Alhasil aku malu sendiri karena lupa dan salah mengingat letak lokerku di mana. Dan bodohnya lagi kunci loker milikku terselip di lipatan buku yang baru saja kupinjam. Jika mengingat hal itu, aku jadi malu sendiri. Karena insiden itu juga, aku jadi sering bertemu dengan Fendy di Pepustakaan, sekedar diskusi atau berbicara perihal buku kesukaan kami.
“Fi, kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi dengan ibumu? Berita ini membuat aku kaget, bahkan tidak bisa tidur, makanya aku langsung nyusul dan datang ke kampungmu.”
Pada akhirnya aku menyerah. Kali ini aku tidak bisa berkelit lagi dan memilih menceritakan semuanya kepada Fendy tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Fendy mendengarkanku tanpa menyangkal. Sesekali, ia menyeka airmata yang jatuh begitu saja, sepertinya Fendy benar-benar tidak menyangka dengan semua yang sudah terjadi pada Fifi dan ibunya itu.
Kehilangan seorang ibu membuat rasa sedih yang berkepanjangan. Ibu telah pergi tanpa meninggalkan satu kata pun, padahal kemarin ibu berjanji bahwa kami akan berjalan-jalan minggu depan. Ibu ingin mengelilingi Danau Toba. Katanya ia ingin sekali melihat danau, sekedar berlibur dari segala rutinitas yang membuat tenaganya semakin terkuras