“Kutunggu loh ya. Eh, busnya sudah datang. Aku pergi ya. Kamu baik-baik di sini. Jangan sedih-sedih lagi. Nanti bu marah loh.” Fendy dengan sigap menarik tanganku dan jatuhlah aku dipelukannya. Ia mengelus kepalaku sampai akhirnya bus itu tepat berhenti di depannya, dengan berat dia melepas pelukan. Sebelum naik, dia menoleh ke belakang dan melihatku yang masih termangu.
“Ha..ti-hati ya, Fendy.” Kataku tergagap.
“Da… Fifi.”
Dengan gontai aku kembali ke rumah setelah bus itu berlalu membawa Fendy. Aku harus bersiap untuk berangkat besok siang.
***
Keesokan harinya setelah pamit pada bibi dan sepupuku, aku berangkat dengan sebuah bus yang akan menghantarkanku sampai di penginapan. Sepanjang jalan bibirku tidak berhenti merapal ibu, semua kenangan melintas begitu saja.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam, sampailah aku di sebuah penginapan yang sudah di pesan ibu. Seorang resepsionis membantu menunjukkan kamar yang akan aku tinggali beberapa hari.
Penginapan terletak di pinggiran Danau Toba. Dan kebetulan sekali pemandangan di depan kamarku langsung mengarah ke danau. Semoga semesta kali ini mampu memulihkan perasaanku. Aku berbenah membereskan barang-barang yang kubawa, lalu aku mandi dan membersihkan diri, sebab beberapa jam lagi akan tiba waktunya berbuka puasa.
Tiga puluh menit sebelum berbuka, pegawai hotel datang mengetuk pintu kamarku. Ternyata mereka mengantarkan makanan untuk berbuka. Aku menerima makanan tersebut dan kembali masuk ke dalam. Tujuanku ke sini sebenarnya bukan saja untuk memenuhi keinginan ibu berliburan, tetapi ada beberapa tulisan yang harus aku selesaikan, karena tulisan-tulisan itu akan aku setorkan segera mungkin ke penerbit.
Hari berikutnya aku berjalan-jalan keluar, sekedar menyegarkan panca inderaku. Sebab berlama-lama di kamar aku tak bisa menuliskan apapun dan rasa bosan muncul begitu saja. Aku berjalan di pinggiran danau. Beberapa anak tampak tertawa riang sambil berenang di pinggir danau. Aku mendekati batu yang cukup besar, dan kemudian duduk di atasnya, menikmati betapa indah semesta yang telah Allah ciptakan. Pantas saja ibu sering mengajak liburan kesini. Tempat ini sering mengingatkan kita untuk selalu bersyukur.
Sesekali, aku bermain air. Memasukkan tanganku ke dalam kemudian mengangkatnya ke atas hingga air danau itu jatuh lewat sela-sela jariku, hal itu kulakukan berulang ulang. Perlahan, aku mulai berjalan ke dalam danau, seperti ada yang mengajakku bermain. Tidak banyak orang pada saat itu. Hanya beberapa anak-anak yang bermain di pinggiran tanpa berani bermain ke bagian yang lebih dalam.