Ketika itu aku sudah tidak tahan lagi dengan kebiasaan istriku, hati ini sudah tidak tenang, darahku naik pitam dan aku lupa dengan akal sehat manusia, kemudian kukejarlah dia yang sedang terkapar itu, kucekik lehernya. Dia meronta-ronta sekan-akan meminta pertolongan, tapi tidak ada suara yang keluar. Semakin dia meronta-ronta aku semakin keras mencekik lehernya, semakin keras, semakin keras, sampai dia tidak lagi bergerak.
Lidahnya terjulur keluar dari mulut, matanya terbelalak, aku periksa pernapasannya, tapi sudah tidak ada apa-apa lagi, Mitha sudah tewas ditanganku, aku membunuh dia karena hati ini diulam cemburu. Dua minggu setelah kematian istriku itu, aku masih merawatnya di rumah seorang diri, setiap hari tubuh Mitha selalu aku suntikkan cairan formalin, aku telah membunuhnya dengan sangat kejam, penyesalan kemudian merasuk-rasuk ke dalam sukmaku.
***
Pada suatu malam, hujan turun lebat sekali, seakan-akan tiada harapan akan berhenti sampai besok pagi. Di luar rumah kilat melintas-lintas, suara gemuruh menggelegar dari langit dan memecah keheningan. Beberapa kali petir menyambar bumi begitu keras laksana para dewa sedang bertempur melawan monster jahat dengan senjata beradu teramat kuat.
Aku dan Mitha sedang berduaan di ruang tamu. Kami mendengarkan gemuruh menggelegar itu, mendengarkan desahan hujan itu, dan memandang lintasan kilat dari jendela itu. Kami berdua menikmati malam dengan penghayatan luar biasa: membayangkan hubungan percintaan antara sepasang kekasih yang tiada bisa mampus meskipun kami mencoba menghindar darinya, membayangkan hubungan suami istri di kala cuaca buruk di luar rumah dan kami membangun kasih di dalamnya.
Kemudian aku pergi ke dapur, mengambil dua gelas yang paling bagus di sana, memasukkan dua sendok bubuk kopi ke dalam gelas-gelas itu, memasukkan satu setengah sendok gula pasir, menuangkan air panas, lalu mengaduknya sampai rata. Setelah itu, dua cangkir kopi pun sudah siap untuk dihidangkan, dan aku kembali ke ruang tamu dengan senyuman manis di bibir, sementara di tanganku membawa dua gelas kopi.
Mitha sedang menungguku di ruang tamu dengan penantian yang tidak bisa dia ungkapkan. Ia berpura-pura asik saja dengan ponsel miliknya. Ketika aku datang membawakan dua gelas kopi, ia hanya terdiam sementara pipinya berubah warna menjadi merah muda. Mukanya sekilas menengok ke atas dan kemudian dia jatuhkan kembali ke layar ponsel miliknya, dia sudah pandai bermalumalu denganku.