Oleh Vendo Olvalanda S (Singgalang, 26 Mei 2019)

MEMASUKI minggu ke dua Ramadan, sekolah Uva mengadakan acara buka bersama. Sebelum kelas dibubarkan, ibu guru tak lupa mengingatkan perihal acara tersebut.
“Jangan lupa membawa takjil masing-masing. Takjil yang paling enak yang kalian punya. Dan yang paling penting bawa yang banyak, ya,” goda Bu Bariah kepada Uva dan temanteman kelasnya.
Sambil tertawa, Uva dan teman-temannya serentak menjawab.
“Huuu. Ibu mau enaknya saja, niiih.”
Sepulang sekolah, Uva dan teman-temannya pun membicarakan kegiatan mereka itu.
“Shin, besok kamu takjilnya apa?” tanya Uva pada Shintia.
“Saya akan membawa lemang tapai buatan nenek. Kalau kamu apa, Va?” ucap Shintia balik bertanya, “Hm mm…saya tidak tahu pasti takjil apa yang disediakan ibu. Yang jelas, takjil saya pasti lebih enak dari takjil mu!” seru Uva dengan pe nuh semangat.
“Kalau begitu saya tunggu takjil kebanggaanmu itu. Awas ya kalau kamu bohong!” sindir Shintia kepada Uva.
Sesampai di rumah, Uva langsung menceritakan hal tersebut kepada sang Ibu. Ia pun mendesak ibunya membuatkan takjil yang sangat enak. Ia tak mau jika nanti takjil yang ia bawa kalah dengan takjil temantemannya.
Ia bahkan sudah terlanjur berjanji pada Shintia. Ia tak mau dikatakan sebagai seorang pembohong. Karena terus didesak Uva, ibu jadi kehilangan akal.
“Kue talam, Nak?”
Belum habis ibunya berbicara Uva memotong, “Tidak, Ma.”
“Bubur kacang ijo?” ibu melanjutkan.
“Yang lebih enak dong, Ma,” ujar Uva sambil meng gelengkan kepalanya.
“Kolak ubi? Pisang coklat?” ucap ibunya bingung.
“Ayolah, Maaa, yang lebih spesial lagi,” Uva mendesak ibunya.
“Nah mama tahu! Bagai mana dengan resep rahasia nenekmu, onde-onde!” ujar ibu dengan mata yang berbinar-binar.
Mendengar usulan dari sang ibu, mulut Uva pun ternganga. Tanpa disadari, ia telah berkhayal tentang betapa nikmatnya ondeonde buatan ibunya.