Onde-onde Mama Wir

Lalu pergilah Uva menuju acara buka bersamanya di sekolah tanpa membawa takjil. Sesampai di sekolah, benar saja, Uva dicemooh dan dituduh berbohong oleh Shintia dan teman-temannya. Tapi Uva hanya tersenyum.

Seusai shalat tarawih Uva pulang ke rumah. Disaat melewati rumah pak RT yang tak jauh dari rumahnya, ia dipanggil oleh pak RT dari kejauhan. Dan disebelah pak RT berdiri sang anak yang diberi takjil oleh Uva tadi. Ternyata anak tersebut merupakan kemenakan dari pak RT. Anak tersebut terpaksa berbuka dengan air putih dahulu karena waktu berbuka puasa telah masuk. Sedangkan jalan menuju rumah mamaknya masih jauh. Seteleh beberapa percakapan, Uva pun pulang.

Jika dari mesjid Uva berjalan dengan tangan kosong, sekarang ia telah menentengdua kantong besar cemilan kesukaannya. Makanan yang sangat susah ditemui di perkotaan. Dadih namanya.

 

Vendo Olvalanda S. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNP/Bergiat di Ranah Performing Arts Company.

Arsip Cerpen di Indonesia