Nek Jum

Nek Jum seolah menutup telinga rapatrapat. Dia tetap menyambangi surau itu dari sore hari sampai malam hari. Salat dan berzikir. Hinaan yang dialamatkan kepadanya adalah sebuah kewajaran. Setidaknya mereka tidak menolak kehadirannya di surau.

Hingga suatu peristiwa nahas terjadi pada surau suatu malam. Ketika itu keadaan memanas antara dua kelompok. Pembunuhan dan mayat bersimbah darah di pinggir jalan terus terjadi. Malam itu sewaktu warga salat Isya berjamaah di surau, sekelompok orang berbaju hitam membakar surau. Semua warga selamat, kecuali Nek Jum yang memilih bertahan di dalam surau. Meninggal hangus terbakar bersama surau. Bukan bau terbakar yang menguar, tetapi wangi bunga melati mengerubungi surau yang menjadi arang.

“Kami percaya wangi bunga melati itu berasal dari tubuh Nek Jum. Terlambat kami menyadari, Nek Jum telah bertaubat dan wangi bunga melati mungkin menandakan pertaubatannya diterima Allah,” terang ayah.

Entah dari mana asalnya, malam ini di masjid bekas surau terbakar itu kucium wangi bunga melati. Aku percaya, masjid ini telah diberkati oleh Nek Jum. Bahwa manusia tak sepatutnya menjadi Tuhan, yang pantas menempatkannya di surga atau neraka. ❑-e

 

Kebumen, 15 Mei 2019

Umi Salamah, dalam berbagai antologi cerpen dan puisi dan di berbagai media cetak. Buku terbarunya Because You Are My Star (novel remaja kontemporer, Alra Media 2017).  Alamat rumah di Dukuh Ganggeng Desa Tanjungrejo RT 06 RW 03 Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen.

Arsip Cerpen di Indonesia