Pelajaran dari Erwin

Oleh Umi Salamah (Solopos, 26 Mei 2019)

Pelajaran dari Erwin ilustrasi Solo Posw.jpg
Pelajaran dari Erwin ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

Di beranda rumah, Adam sedang membaca buku cerita detektif. Dia menguap beberapa kali. Dia merasa buku yang dibacanya sangat membosankan. Padahal cerita detektif adalah jenis bacaan yang paling dia sukai. Efek dari puasa, dia merasa lesu.

Tahun ini Adam bertekad untuk puasa satu hari penuh selama bulan Ramadan. Dia tidak mau kalah dengan kawankawannya yang sanggup puasa penuh. Tahun kemarin, Adam hanya sanggup puasa setengah hari.

Adam menutup buku bacaannya. Dia menyerah dan hanya mampu membaca dua paragraf saja. Dia ingin bermain bersama kawan-kawan, tetapi takut letih dan haus. Diajak membaca buku saja mudah capek dan bosan. Ternyata berpuasa banyak cobaannya.

“Adam, Bunda mau jualan di pasar dadakan. Buka puasa nanti, susul Bunda ya. Kita buka puasa bersama di sana,” pamit Bunda.

“Iya, Bun,” jawab Adam lirih.

Bunda meninggalkan rumah dengan bahan-bahan sate ayam. Selama bulan Ramadan, lapangan sepakbola di depan rumah Adam dijadikan pasar dadakan. Pasar dadakan itu banyak menjual makanan untuk berbuka puasa. Bunda Adam juga ikut berjualan di sana.

Adam menatap jam dinding. Buka puasa masih satu setengah jam lagi. Tapi perutnya sudah berbunyi. Kerongkongannya juga kering. Adam menyalakan televisi dan menonton kartun kesukaannya. Sambil menunggu buka puasa tiba.

Setengah jam sebelum waktu buka puasa, Adam siap-siap pergi ke pasar dadakan. Dia mau melihat-lihat takjil apa yang akan dia beli untuk berbuka puasa. Pasar dadakan sudah ramai. Adam bersemangat memilah-milah makanan dan minuman. Ada penjual kolak, es campur, es buah, gorengan, dan makanan lainnya.

“Es… es buah. Mari beli es buah. Manis dan segar.” Adam mendengar teriakan yang terdengar familiar di telinganya.

Tidak jauh darinya, Adam melihat Erwin berjualan es buah. Erwin adalah teman satu kelas di sekolahnya. Adam tidak dekat dengan Erwin, tetapi dia penasaran dengan Erwin dan es buah yang dijualnya.

“Erwin, kamu jualan es buah? Sejak kapan? Kok sendirian?” tanya Adam heran.

“Eh Adam. Aku baru hari ini jualan es buah. Aku sama Ibu. Tapi Ibu jualan pecel. Tuh di sana,” tunjuk Erwin di seberang.

Adam tertarik dengan es buah yang dijajakan Erwin. Dia membeli satu porsi. Pencarian Adam masih berlanjut. Selain es buah, dia membeli kolak pisang, lumpia, dan gorengan tahu. Dia membawa semua makanannya ke gerai Bunda. Bunda sampai geleng-geleng kepala karena Adam membeli banyak makanan.

Azan maghrib berkumandang. Adam langsung memakan makanan yang dia beli. Dia sangat lapar. Setelah menyantap makanan yang dia beli, Adam masih sanggup memakan satu porsi sate ayam.

“Leganya,” ucap Adam kenyang.

“Adam, ayo siap-siap pulang. Setelah itu kita salat maghrib berjamaah,” ajak Bunda.

Adam malas berdiri. Dia sangat kenyang. Tapi dia harus meninggalkan pasar dadakan ini yang mulai sepi ditinggalkan pembeli. Adam melintasi gerai es buah Erwin. Dia heran melihat Erwin masih makan.

“Erwin, kamu baru buka puasa?” tanya Adam curiga bercampur heran.

“Iya,” jawab Erwin sambil tersenyum.

“Kamu kenyang buka puasa hanya minum es buah? Kalau aku es buah cuma pelepas haus saja” lanjut Adam terkejut.

“Kenyang kok. Aku terbiasa kelaparan sebelumnya. Setiap hari makan dua kali. Pagi dan malam hari. Jadi puasa tidak berat bagiku,” jawab Erwin.

Adam tidak tahu Erwin berasal dari keluarga yang kurang berkecukupan. Selama ini di kelas Erwin irit bicara dan jarang menceritakan keluarganya. Adam jadi merasa kasihan pada Erwin. Sekaligus malu pada diri sendiri. Kelakukannya setiap berbuka puasa seperti kesetanan. Buka puasa dengan banyak makanan dan minuman. Buka puasa besok, dia mau makan dan minum secukupnya saja. Kekenyangan juga tidak enak diajak bergerak.

 

Kebumen, 09 Mei 2019

Arsip Cerpen di Indonesia