Kalau kau telah mendapati kenyataan itu, kau tentu akan bertanya-tanya tentang bagaimana semua itu bisa terjadi? Kau tentu akan bertanya-tanya tentang apa yang mereka perbuat sampai membuat wajah para laki-laki itu kehilangan kedua bola matanya? Maka pendam saja tanyamu, sebab kau hanya akan menemui titik jenuh apabila bertanya pada semua orang di kota itu.
Dan apabila kau bertanya pada semua laki-laki di kota itu, mereka akan menjawabmu dengan mulut terbungkam yang teramat rapat, lalu berlalu dari hadapanmu tanpa sepatah kata pun. Apabila kau bertanya pada perempuan di kota itu, mereka hanya akan menjawabmu dengan bungkam pula, dan akan menatapmu dengan nanar, ada pula yang berkaca-kaca.
Sebenarnya, kalau pun aku yang ditanya pertanyaan seperti itu, aku akan memberi jawab demikian, siapa pula yang ingin mengingat ingatan yang amat buruk macam itu, sebab memang tak seharusnya kenangan yang seperti itu diingat kembali, ditambah lagi, aku sendiri yang mengalami hal itu. Aku yang membuat mata-mata itu hilang. Aku yang membuat mata-mata itu enggan mendiami wajah yang seringkali menyapu pandang pada bilik mandiku setiap malam.
“Aku tak percaya padamu, Mat. Mana ada perempuan di kota ini yang secantik dan seseksi seperti yang kamu katakan. Kau pasti bohong. Kau tentu tahu, hanya isteriku perempuan paling cantik di kota ini. Sejak dahulu, belum ada yang menandingi kecantikan isteriku.”
“Sumpah! Mana ada aku membual. Wajah perempuan itu teramat cantik, belum pernah kulihat perempuan secantik dia di kota ini. Kecantikan isterimu tidak seberapa apabila dibandingkan dengan perempuan itu. Ah, ya sudah. Kalau kau tak percaya, kau boleh buktikan sendiri nanti.”
“Alaah, aku tetap tak percaya omong kosongmu itu.”
“Terserah. Tapi kalau kau berubah pikiran, kau bisa naik ke pohon melinjo samping kiri rumahnya itu ketika dia hendak mandi. Sebab anehnya, dia hanya cantik ketika tengah mandi. Kalau aku berpapasan dengannya di jalan—atau di mana pun selain di kamar mandi, dia tak secantik saat di kamar mandi. Heran juga, mengapa bisa ada orang yang seperti itu.”
Kasak-kusuk itu, entah mengapa hanya kuanggap angin lalu. Aku tak tahu siapa yang berkata, aku tak tahu pula siapa yang mereka maksudkan dan aku terus saja menuju kamar mandi dan segera melepas baju.