Sampai ketika aku baru saja selesai mandi, kulihat laki-laki masih dengan sarung dan peci hitam, duduk dengan santai sambil merokok di salah satu dahan pohon melinjo samping kiri rumah sembari melihat ke arahku. Tak pelak, aku berteriak sekencang mungkin hingga mungkin tak ada yang lebih kencang daripada itu sampai bapak dan ibu yang sedang asyik bercumbu di balkon rumah tergopoh-gopoh berlari ke arahku.
Ah, kalau kau mungkin tak akan menyangka, aku yang seorang pendiam bisa berteriak sekencang itu. Laki-laki itu—yang sudah pasti melihatku sedang mandi, jatuh bedebum ke tanah. Aku tak tahu dari mana datangnya orang-orang yang langsung meringkus laki-laki itu dan membawanya ke alun-alun kota untuk diadili.
Aku pun merasa telah jatuh ke paling sakitnya jatuh kala itu. Walau orang-orang itu hanya melihatku mandi, aku merasa betapa kehormatanku sudah direnggut secara paksa, sebab belum ada satu pun perempuan di kota ini dilecehkan seperti itu.
Bahkan saking sakitnya aku, bahwa aku tak sadar terlalu banyak kata-kata buruk meluncur deras dari mulut, dan tentu, kau tahu, jika kau melihat setiap lelaki yang tanpa mata itu, jelas sebab mereka semua telah mengintip perempuan-perempuan di kamar mandi pada hari-hari berikutnya, dan para perempuan mengikuti apa yang aku lakukan, mencongkel mata para lelaki pengintip yang diadili di alun-alun kota.
Karangcempaka-Sumenep 2019
Penulis bernama lengkap Eiffah Eizzatul Umami. Lahir di Sumenep, 27 Agustus 2001. Aktif di Sanggar Alfabet pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka-Bluto Sumenep, dalam kelas kreatif “Menulis Cerpen”. Penyuka musik, sastra, tumpukan buku, dan senja.