Apang Panas

“Nak, ujian dari Allah itu bukan hanya saat kita susah, kadang ketika kita sudah berkecukupan, justru disitulah ujian semakin berat, apakah kita terlena dengan nikmat itu atau tetap istiqamah.” Begitu uraian ibu, ketika aku bertanya perihal kebiasaannya yang tidak pernah berubah hingga sekarang.

Ada satu lagi kebiasaan ibu yang juga tidak pernah ditinggalkannya, yaitu bersedekah apang panas setiap hari Jumat. Setiap hari Jumat, ibu menyisihkan hampir sebagian jualannya untuk dibawa ke Masjid atau Panti Asuhan. Kadang lokasinya dekat rumah kami, hingga menyebrang ke RT atau RW kecamatan sebelah.

“Nak, kita harus memperbanyak sedekah dan amal soleh, terutama di hari jumat atau malam jumat. Karena di hari Jumat, perbuatan kita itu langsung dinilai oleh Allah, alangkah baiknya jika kita memberi yang terbaik, pada saat Allah langsung menilainya. Begitu uraian ibu, ketika aku bertanya perihal kebiasaan sedekahnya yang tidak pernah berubah.

***

Beberapa bulan terakhir ini, usaha penjualan apang panas telah berkembang pesat. Apang panas menjadi booming. Di sudut-sudut jalan orang-orang ramai berjualan apang panas. Spanduk bertuliskan apang panas begitu muda kita temukan. Kue tradisional itu kembali naik panggung setelah sekian lama mulai terpinggirkan. Di tengah kepungan kue kekinian, era milenial modern, apang panas kembali mengajak kita untuk bernostalgia ke masa lalu. Lidah kita diajak untuk kembali bermesraan dengan masa lalu. Karena kuliner memang bukan sekadar makan lalu kenyang. Tetapi juga ada proses mengingatkan, tentang kampung, tentang kakek, nenek, tentang seseorang yang masih melekat di hati. Apang panas ini mewakili itu semua. Mewakili kenangan yang tak terbeli oleh uang. Semunya dimulai dari gula merah, tepung beras, tepung terigu, pandan, santan kelapa, hingga kelapa parut. Dan selanjutnya apang panas siap untuk disajikan.

“Nak, semakin banyak yang berjualan apang panas, itu semakin baik. Rejeki itu sudah diatur oleh Allah, tidak ada yang akan tertukar. Justru penjual-penjual baru itu secara tidak langsung ikut mempromosikan kue apang panas, dan ini membantu penjual yang sudah ada sebelumnya.” Begitu uraian ibu, ketika aku bertanya perihal, apakah dia khawatir akan tersaingi dengan banyaknya orang-orang yang berjualan apang panas sekarang. Semua pertanyaanku perihal jualan, selalu dijawab ibu dengan lengkap. Kecuali satu, tentang kata dermawan yang melekat setelah nama kue apang panas jualan ibu. Apang panas dermawan.

***

Arsip Cerpen di Indonesia