Apang Panas

Hingga suatu sore, ketika hujan deras turun, ibu memanggilku duduk rapat disampingnya, meraih kepalaku dan diletakkan sandar di bahunya.

“Nak, hari ini tepat sepuluh tahun Bapakmu pergi meninggalkan kita. Inilah waktu yang tepat untuk ibu menceritakan semuanya. Perihal kata atau nama dermawan yang melekat setelah nama kue apang panas jualan ibu.” Aku menatap ibu dalam, suaranya agak serak, berat. “Maafkan, Ibu. Bapakmu bukan meninggal karena sakit seperti jawaban ibu yang lalu-lalu. Bapakmu belum meninggal. Dia masih hidup. Namanya adalah Dermawan. Bapakmu dulu adalah seorang kontraktor yang suskes, tetapi ketika bisnisnya berada di puncak, dia tidak lulus ujian dari Allah. Bapakmu, pergi dengan perempuan lain, meninggalkan kita berdua, saat kau masih berumur sembilan bulan. Kue apang buatan ibu adalah satusatunya makanan kesukaan Bapakmu. Kue apapun dulu bisa dia beli, tetapi dia selalu pulang dan mencari apang panas buatan ibu. Hingga kini, setiap membuat apang panas, dalam hati kecil ibu selalu berharap bapakmu pulang. Untuk semua kenangan masa lalu. Karena kuliner memang bukan sekadar makan lalu kenyang. Tapi ada proses mengingatkan, tentang kampung, tentang kakek, nenek, tentang seseorang yang masih melekat di hati. Apang panas jualan ibu, mewakili semua itu. Mewakili kenangan yang tak terbeli oleh uang. Apang panas dermawan. (*)

 

Rachmat Faisal Syamsu. Penulis buku Anatomi Rindu 1 dan 2.

Arsip Cerpen di Indonesia