Cerpen Miftachur Rozak (Radar Jombang, 02 Juni 2019)

Ketika malam merangkak dan bulan sabit mulai Nampak. Perempuan tua itu mulai datang. Berjalan dari pinggiran sungai dekat pelataran-pelataran rumah. Kebaya putih lusuh, serta sarung batik coklat ia kenakan. Suara terompa menggesek tanah membangun irama menyayat-nyayat. Tongkat hitam mengetuk-ngetuk bumi. Suasana kian mencekam, menjelma, merasuki pikiran.
Anak kecil pasti merinding mendengar kisahnya. “Mbok Krimin,” begitulah para ibu menceritakan pada anaknya. Dongeng tentangnya kerap terdengar oleh anak-anak menjelang tidur. Merasuki pikiran, menjelma, menakutkan, namun sangat dinantikan.
Karena mungkin, para ibu memoles ceritanya dengan menumbuhkan rasa penasaran pada anaknya.
Kisah Mbok Krimin memang menakutkan. Karakternya bagai wanita penyihir. Tiap malam berkeliaran mengitari desa. Mengintip: bayang-bayangnya menyelinap jendela. Aku masih teringat sangat , dikala ibuku mendongeng untukku. Ketika itu, Aku masih umur enam tahun. Hampir tiap malam Ibu mendongeng untukku.
Mbok Krimin menjelma perempuan tua yang misterius. Tongkatnya menghentak-hentak bumi. Terompanya menyeret-nyeret. Seakan berteriak dan menyayat. Kehadirannya membuat anak kecil ketakutan. Ia membawa minyak urut serta mulutnya bergumam. Seakan berdoa dan menyihir. Untuk anak-anak yang sering nangis karena sakit atau sekedar demam.
Mbok Krimin memanglah penyihir: Menyihir anak-anak kecil yang rewel, demam, atau sakit yang lainnya. Bahkan ia bisa menyihir (menyapih), anak kecil yang masih menyusu pada ibunya.
Aku adalah salah satu pasien yang pernah disapih ibuku lewat perantara Mbok Krimin. Karena dua tahun lamanya aku masih menyusu pada Ibuku.
Menurutku, bukan sihir Mbok Krimin yang mampu menyapihku. Namun, karakternya yang membuat aku jera dan tidak lagi menyusu pada ibuku. Mbok Krimin memang menakutkan. Wajahnya keriput, mulutnya senang bergumam. Hinggga sampai sekarang, para Ibu selalu mendongeng untuk sekedar menakuti anak-anak yang tidak segera tidur atau masih sering rewel.
“Tidurlah, Nak, agar Mbok Krimin tak menyelinap di jendela”. Seperti itulah ibuku mengakhiri ceritanya. Sontak, Akupun menarik selimutku. Dalam bayanganku, Mbok Krimin benar-benar menakutkan. Ia akan datang jika Aku tidak segera tidur. Akupun segera tidur, walau pikiran menyimpan berjuta rasa penasaran tentang Mbok Krimin.
Sampai saat ini, Mbok krimin masih saja menjadi tokoh dalam dongeng-dongeng menjelang tidur. Dongengnnya turun-temurun sampai keanak cucu. Termasuk Aku, yang kini sudah menjadi Ayah. Akupun sering mendongeng untuk Anakku, namun sepertinya dongengku tak semenakutkan dongeng yang dibacakan ibuku dulu. Karena saya berpikir, bahwa sebenarnya Mbok Krimin adalah wanita baik. Bagiku ia adalah seorang dokter. Dokter urut, lebih tepatnya. Dokter penolong anak-anak yang sakit atau kurang enak badan.
Kini kisah Mbok Krimin tinggal kenangan. Sudah tiada lagi dokter urut yang mampu menggantikan karakternya. Mbok Krimin banyak berjasa, walaupun dongengnya sering membuat bulu merinding. Namun ceritanya cukup efektif untuk mengantar tidur.
***
Dulu di akhir masa tuanya, Mbok Krimin hidup seorang diri. Suaminya meninggal karena tersambar petir di pojok sawah milik pak lurah. Suaminya termasuk orang yang giat bekerja. Tidak peduli hujan mengguyur, langit mencekam, bahkan halilintar menyambar liar ia tidak pernah gentar. Namun, kegigihannya dalam bekerja membuatnya mati tersambar petir di kemudian hari. Sungguh tragis nasibnya.
Hari-hari Mbok Krimin semakin memprihatinkan. Di usia senja ia harus hidup sendiri dengan rumah sangat sederhana. Janda tidak mempunyai anak itu harus berjuang melawan kesusahan hidup sendiri. Hanya rumah buatan mendiang suaminya itu satu-satunya harta yang ia punya. Beratap daun tebu yang dianyam rapi. Namun sudah terlihat menghitam dan layu karena dimakan waktu. Dinding yang terbuat dari kayu itu terlihat hijau kusam oleh lumut-lumut yang menempel. Warnanya sudah tak seindah waktu mereka hidup bahagia dulu. Bau lembab menyeruak bagai bangunan tua yang tak terjamah manusia. Tiang-tiang penyangga rumahpun sudah mulai keropos oleh hujan dan sengatan matahari.
Walau sedemikian merananya. Mbok Krimin tetap gigih dalam bekerja. Sekedar menjadi tukang urut dan spesialis penyapih anak. Dengan modal minyak atau ramuan yang ia racik sendiri. Tongkat kayu penyangga tubuhnya itu selalu ia bawa. Terompa tua berserampat ban bekas juga selalu ia kenakan. Baju kebanggaannya juga selalu menempel pada tubuhnya ketika sedang mengurut pasiennya. Kebaya putih lusuh dan sarung batik rupanya. Hingga karakternya yang unik itu selalu jadi primadona untuk mendongeng para Ibu saat ini.
***
Mbok Krimin semakin menua. Perempuan yang berumur 103 tahun itu mulai sakit-sakitan. Namun, ia tetap gigih dalam beribadah di musala. Cara berjalannya sudah mulai menyeret-nyeret terompnya. Hingga gesekan antara terompa dan tanah terdengar menyayat sampai kejauhan. Sambil membungkuk ia memegang erat tongkatnya. Berjuang demi sampai ke musala. Kebaya putih lusuh dan sarung batik sering ia kenakan. Hingga orang-orang hafal karakternya, meski dari kejauhan.
Para tetangga mulai iba dan mengkhawatirkannya. Melihat kondisi Mbok Krimin yang mulai menua dan sakit-sakitan. Rumahnyapun mulai terlihat rapuh. Tiang-tiang penyangganya sudah mulai doyong. Seakan mau roboh bersama penghuninya.
Mbok Krimin memilih tinggal di rumahnya, walau banyak tetangga yang menawarkan untuk tinggal di rumah mereka. Bagi Mbok Krimin, rumahnya terlalu sayang untuk ditinggalkan. Terlalu banyak kenangan menurutnya. Rumah sederhana dekat aliran sungai yang menenteramkan; pemandangan persawahan yang menyejukkan. Walaupun kadang sawah itu seakan berteriak kencang. Teriakannya lebih dahsyat dari sambaran petir yang menjemput suaminya.
Mbok Krimin tetap teguh dalam pendiriannya. Ia tidak akan pernah meninggalkan rumahnya. Mendengar pernyataan tersebut, para tetangga mengusulkan kepada pemerintah daerah, semacam program bedah rumah untuk Mbok Krimin. Namun, banyak persyararat yang harus dipenuhi. Semacam proposal, data diri, foto rumah, dan juga foto Mbok Krimin. Sebenarnya mudah mengurus persyaratan tersebut. Namun, para tetangga lebih memilih bekerja dari pada harus ribet mengurus persyaratan yang belum tentu hasilnya. Karena menurut mereka: walaupun syarat sudah lengkap, belum tentu program bedah rumah bisa terlaksana. Semua tergantung pada pemerintah desa.
Kondisi Mbok Krimin semakin memburuk. Seburuk tempat tinggalnya yang mau ambruk.
Gerimis datang di kala surup. Mbok Krimin bangkit dari Ranjang tuanya. Tongkat hitam ia peluk. Sebagai penopang tubuh yang membungkuk. Terompa sebagai alas untuk berjalan dari tepi sungai menuju musala. Karena magrib segera tiba. Berjalan agak menyeret, hingga terompa terdengar menyayat. Tongkatnya ia pegang erat-erat, sambil berjalan seperti menghentak-hentak bumi. Suara itu selalu terniang bagi masyarakat sekitarnya.
Sesampainya di musalah. Mbok Krimin segera membasuh kakinya. Yang berlumpur karena tanah bercampur percikan air hujan.
Hujan semakin deras. Bahkan angin tak segan untuk datang. Dengan terjangan yang memporak-porandakan. Beberapa bangunan serta pepohonan tumbang. Termasuk rumah Mbok Krimin.
Suara ambruknya rumah Mbok Krimin mengagetkan tetengga sekitar. Sontak mereka bergegas untuk menuju rumahnya. Berlari tunggang-langgang, panik dan resah memikirkan Mbok Krimin. Hiruk-pikuk sembari berteriak memanggil Mbok Krimin. “Mbok Krimin, Mbok Krimin, dimana engkau?”.Suara kepanikan saling teriak.
Rumah Mbok Krimin sudah luluh lantah. Para warga mencarinya dengan membuka serpihan-serpihan bekas rumah Mbok Krimin. Namun, tak kunjung mereka temukan.
Setelah malam berlalu dan Hujan mereda. Tersiar kabar duka dari pengeras suara musala. Bahwa Mbok Krimin telah tiada. Ia meninggal di dalam musala. Memeluk tongkatnya dan masih bermukena. Kebaya putih lusuh dan sarung batik masih dikenakannya. ***