Ibu Pergi ke Gunung

Selepas tangisan itu reda, Ibu tertawa-tawa sendiri dalam kamarnya. Kuintip dari balik pintu, kamar itu kelewat gelap. Ibu mematikan lampu. Namun, di satu titik, aku melihat wajah Ibu tampak berseri di tengah gelap. Segenap wajah Ibu ditimpa cahaya kebiru-biruan dari telpon pintar yang ia pelototi tepat di depan mata. Ibu tertawa lagi, dengan tatapan utuh ke layar yang menyala, tak tergoyahkan oleh apa pun. Hingga beberapa menit kemudian, muncul suara ribut di kamar Ibu, suara sesuatu yang dibanting, lalu senyap. Di kamar Ibu, telepon pintar kesayangan itu telah pecah berserakan di lantai. Mejadi beberapa bagian. Ibu menatap benda itu sambil menangis. Mungkin ia teringat sesuatu. Beberapa tahun silam, seorang balita yang masih merangkak terjatuh dari lantai dua, sebab ibunya tak mengawasinya—terlalu asyik bermain dengan telepon pintarnya. Itu hanya sebuah kecelakaan. Itu hanya sebuah kecelakaan. Ibu berbisik pada dirinya sendiri.

Selang beberapa saat, setelah mengusap air matanya, Ibu mengoceh sambil bergegas mengambil dompet lipat dalam laci lemari. “Akan kubuat diriku bahagia. Aku akan membeli benda-benda lain yang baru, yang setia menemani kesepianku, menuruti segala kemauanku, membantuku melupakan hal-hal buruk yang pernah terjadi.”

Ibu membuka dompet lipat itu, dan wajahnya sontak bembah. Dompet ltu melompong, hanya ada beberapa kartu vang tidak berguna. Sementara kartu-kartu yang lain telah berpindah ke dompet Ayah. Melihat dompet itu begitu kurus, Ibu melengking dan menyalahkan Ayah. Ayah tak pernah memberi makan dompet itu. Dan dompet itu kelewat bodoh karena selalu diam dengan keadaannya yang kurus dan mengenaskan. Ibu pun meracau, betapa dompet itu berkelakuan buruk. Tak pernah mendukung setiap ide cerdas yang muncul di kepala Ibu. Dompet itu selalu saja menjadi dompet yang kurus dan tak bisa diandalkan. Selalu, untuk selamanya. Karena jengkel dengan dompetnya, Ibu membanting dompet itu. Tidak puas membanting, ia pun menggunting-gunting dompet itu beserta kartu-kartu di dalamnya dan menaburkannya ke keranjang sampah. “Kini, apalagi yang tersisa?” Ibu mendengus, “Aku harus keluar rumah untuk menjernihkan pikiran. Semua benda di rumah ini memusuhiku.”

Ibu pura-pura melihat jadwalnya di wajah kalender yang penuh coretan.

“Hari ini ada jadwal arisan, tapi sial, aku sudah terlambat,” ia mendengus lagi.

“Semua ini gara-gara benda-benda tak bermartabat itu. Sungguh menyebalkan. Hidup macam apa ini? Aku harap semua ini segera berakhir!” omelnya menjadi-jadi.

“Peduli setan, aku akan keluar rumah. Aku akan pergi jalan-jalan,” bisiknya kemudian pada diri sendiri, seperti menemukan sebuah ide yang cemerlang. Namun, sejurus kemudian, mendadak wajah Ibu menekuk diliputi kesedihan. Jelas sekali, sesuatu tengah membebani pikirannya. Mungkin ia mengingat televisi, telepon pintar, serta terutama dompet yang kini, pelan-pelan telah menjadi musuhnya. Tanpa benda-benda itu, sejatinya Ibu merasa tak bisa bergerak. Kehabisan daya. Kehilangan gaya.

Arsip Cerpen di Indonesia