Hingga petang itu, Ibu benar-benar membuka pintu. Seperti hendak menghirup udara baru. Ia tak lagi menghiraukan televisi bobrok di ruang tengah. Ia tak lagi memedulikan telepon pintar dengan baterai berserak di lantai kamarnya. Ia melupakan dompetnya yang telah terkubur di keranjang sampah. Kain perca dan gaun-gaunnya juga ia tinggalkan begitu saja. Berteman sepatu-sepatu usang yang perah berjaya di masa silam.
“Apakah kelak, Ibu akan pulang?” aku berbisik.
Namun Ibu tak menjawab, menoleh pun tidak.
Di muka pintu, sambil mulai berjalan, Ibu mulai melepaskan alas kakinya. Lantas menanggalkan gaun panjang yang dikenakannya. Bulat-bulat Ibu pergi ke gunung. Dari kejauhan, aku melihat tubuh Ibu kian mengecil. Menjelma gadis kecil yang berjalan sambil melompat-lompat, lantas, perlahan menjadi bayi yang telanjang. Merangkak perlahan menuju ibunya di gunung. Untuk kembali menyusu. Seperti di masa lalu.
Diam-diam aku terbang menyusul Ibu. Aku harus menyusul Ibu. Bayi ini juga masih butuh menyusu. Seperti di masa lalu. Saat ia masih bisa merangkak. Dan belum melayang-layang di udara.
Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya terpercik di beberapa media. Buku kumpulan cerpen terbarunya, Dongeng Pendek Tentang Kota-Kota dalam Kepala, 2017. Kini bermukim di Malang.