Rumah Pelangi

Di antara hujan yang jatuh tebal-tebal, lengkungan pelangi tiba-tiba turun dan rebah tepat di sisi mayat suaminya. Perempuan itu hanya tertegun sebelum akhirnya menyambangi pelangi itu dan menariknya hingga jatuh seperti layangan yang diturunkan.

Dengan lembaran pelangi yang seperti kertas tisu itu, perempuan itu lantas membungkus mayat itu dengan tangan gemetar akibat tangis yang tak berkesudahan. Perlahan mayat itu berubah seperti mendapat anugerah, menyala-nyala dengan cahaya warna-warni. Tapi itu tak berlangsung lama. Sebab mayat itu tiba-tiba raib setelah terbungkus sempurna layaknya mayat yang dikafani kain kafan. Sementara itu, tangis perempuan itu semakin pecah, mengalahkan ketakjuban orang-orang yang menyaksikan peristiwa ajaib itu.

Sejak hari itu, perempuan itu tinggal sendiri dan karena tak tahan dengan gangguan lelaki-lelaki nakal, akhirnya ia minggat dari kampung. Itu ia lakukan diam-diam pada tengah malam buta saat warga kampung tidur pulas di dalam kamar. Seperti pesan sang suami yang pernah hadir dalam mimpi, ia lantas memilih hidup di pinggir hutan, mengumpulkan pelangi saat hujan, dan menggantungnya di dinding-dinding rumah yang mereka buat secepat di negeri dongeng. “Dengan pelangi, kau tak akan lagi kesepian, Elia. Selain rumah akan jadi terang, kau akan selalu merasakan kehadiranku.” Begitu kata suaminya dalam mimpi itu.

Waktu terus berlalu. Gangguan dari lelaki nakal ternyata belum selesai. Setiap kali perempuan itu memburu pelangi, selalu ada lelaki yang datang mengintip. Namun sejak itu ia tak mau tinggal diam. Ia biarkan lelaki itu membuntutinya, mengejarnya sampai masuk ke dalam perangkap. Dan esok harinya, istri dari lelaki bejat itu akan menjerit karena mendapati suaminya tahu-tahu sudah tak bernyawa di sisinya.

Begitulah cerita yang disampaikan Likun mengenai rumah misterius itu saat aku numpang bermalam di rumahnya setelah seharian bekerja sebagai buruh penebang kayu di hutan Topoar. Sebelumnya, aku bertanya perihal rumah itu karena merasa penasaran setelah tadi siang aku memergokinya tanpa sengaja. Waktu itu, aku tak melihat perempuan itu karena kebetulan cuaca sedang cerah, tak ada tanda-tanda hujan mau turun.

Semula kupikir rumah itu tak pernah menyimpan banyak rahasia selain cahaya warna-warni. Tapi aku salah. Aku bahkan semakin penasaran begitu mendengar kejadian demi kejadian yang diceritakan terkait rumah itu dan penghuninya. Namun aku masih belum percaya kalau ada beberapa lelaki mati konyol gara-gara mengganggu perempuan itu. Bukankah perempuan diciptakan tidak lebih kuat dari lelaki? Hingga akan terdengar tak masuk akal bila lelaki sampai kehilangan nyawa di tangannya.

Arsip Cerpen di Indonesia