Rumah Pelangi

Maka, keesokan harinya, saat hujan mengguyur begitu deras, kutinggalkan pohon-pohon yang baru kutebang, lalu mendatangi tempat di mana perempuan itu biasa mengumpulkan pelangi. Dan seperti yang kuduga, perempuan itu sudah ada di sana, menyeret-nyeret pelangi untuk dibawa pulang. Sementara aku sudah bersiap-siap mencegatnya dari balik batang beringin besar. Aku ingin mengajaknya ngobrol, atau bahkan ikut ke rumahnya jika diizinkan.

Namun, tiba-tiba kurasakan waktu begitu cepat berlalu. Tak kusangka, aku sudah berada di pinggir telaga bersama perempuan itu. Kami sama-sama telanjang bulat. Perempuan itu meraih tanganku, menuntunku ke tengah talaga. Perlahan tubuh kami makin masuk ke dalam air. Kurasakan sebongkah daging pejal merapat ke tubuhku, nafasku meninggi. Kami pun menyatu dalam desah yang tak tentu. Tanpa sadar, kami makin tenggelam hingga mulut megap-megap karena tidak kuat menahan nafas.

Mendadak aku terbangun. Nafasku ngos-ngosan. Keringat dingin mengucur dari wajah dan tengkukku. Ternyata hanya mimpi. Mimpi buruk akibat berani mengganggu perempuan itu di siang bolong.

Kini aku percaya sepenuhnya akan cerita Kakek Likun. Aku telah berani mengganggunya dan kupikir hidupku dalam ancaman. Karena itulah, pagi-pagi sekali aku pun memilih pulang dan berjanji tak akan pernah kembali lagi ke kampung ini.

Sesampainya di rumah, diam-diam aku bercerita pada teman-teman perihal rumah misterius itu. Kukatakan pada mereka bahwa penghuni rumah itu adalah seorang perempuan cantik. Mereka hanya diam mendengarkan, tapi jelas wajah mereka menyimpan rasa penasaran yang besar.

Tiga hari berlalu dan tiba-tiba kudengar keriuhan di jalan dekat rumah. Di sana beberapa istri tetangga berkumpul, bertanya-tanya perihal suami mereka yang tidak pulang-pulang. Sementara itu, aku tidak keluar-keluar dari rumah dan hanya terdiam di pojok kamar seperti orang yang sedang ketakutan.

 

Kota Ukir, 2019

Alim Musthafa lahir dan tinggal di Sumenep Madura. Alumnus PBA di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk. Sehari-hari ia mengajar, menulis fiksi, juga menerjemah buku-buku berbahasa Arab. Karya-karyanya telah tersiar di sejumlah media cetak juga daring.

Arsip Cerpen di Indonesia