Kemudian, ia diam sejurus.
“Kita tak dapat mengingkari itu. Menjadi orang partai adalah pilihan hidup. Menjadi pedagang, menjadi guru, menjadi kiai, bahkan menjadi koruptor atau perampok—walau kadang terpaksa—juga adalah pilihan hidup. Aku tahu engkau tak terpilih dan gagal jadi anggota dewan, dan engkau kecewa berat. Engkau harus terima. Itu risiko, bukan? Namun, hidupmu belum berakhir, ’kan?”
“Kau jadi pintar sejak tinggal di Jakarta, Kawan.”
Aku nyengir kuda dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Ia bercanda sekaligus meledekku juga. Kulihat ia tersenyum. Kali ini, senyumnya berbeda, sebuah senyum tulus. Dari tadi mahal sekali dia: belum ada satu senyum manis pun yang disunggingkannya. Tampang Rano Karnonya mulai tampak kembali. Pertanda baik, bahwa amarah yang meletup-letup, meluap-luap, sudah wasalam dari dirinya. Aku pun tersenyum juga. Kemudian, kami berdua tertawa berderai.
“Si Vox populi vox dei ini!” kataku kemudian.
“Dasar orang bahasa!” katanya mencandaiku, ”masih ingat saja, tak pernah hilang bahasa Latin itu dari benakmu rupanya.”
Ia peminat dan penghapal berat istilah-istilah politik berbahasa Latin. Tidak heran, ia kerap juga kami panggil Si Vox Populi Vox Dei. Ia tersenyum-senyum jika dipanggil dengan sapaan Latin itu. Menurutnya, panggilan itu sebuah gengsi sosial baginya dan pengakuan teman-teman atas kredibilitas dirinya. Sok sekali dia. Cuping hidungnya naik jika ia disapa dengan sapaan itu. Sebaliknya, menurutku, sapaan itu norak sekali dan membuat kami sekelas tertawa riuh jika sudah memanggil-manggilnya dengan panggilan itu.
“Masih ingat artinya ’kan? Jika tak ingat, berhenti saja engkau bicara politik,” gurauku.
“Ya. Suara rakyat adalah suara Tuhan,” sambungnya, “rakyatlah yang berkuasa, bahwa kita, anggota dewan, pejabat, atau siapa pun yang mengemban amanah dari rakyat harus mengabdi sepenuh jiwa bagi rakyat, bagi bangsa dan negara, menuju ibadah kepada Tuhan.”
Kecerdasaannya kembali pulih jika diajak bicara politik. Kecerdasannya itu yang dulu kami kagumi satu sekolah. Sejak dulu pula, ia memang senang mengoleksi sekaligus menghapal ungkapan-ungkapan bahasa Latin, yang sering dikutip orang-orang pintar. “Biar tampak intelek,” katanya suatu hari, walaupun ia kemudian tertawa-tawa, sebab ia sejatinya memang senang bercanda.