Kami bertatapan. Lalu, kami tersenyum bersama-sama. Dalam hatiku, terlontar doa tulus untuk sahabatku ini.
“Kapan engkau balik ke Jakarta?”
“Insya Allah lusa aku akan terbang dari Pangkalpinang.”
“Doakan aku dan keluargaku, terutama untuk kesembuhan putri bungsuku…,” pintanya. Pelan suara itu, tetapi amat penuh harap, saat aku menginjakkan kakiku di tangga teras untuk meninggalkan rumahnya.
“Doaku selalu untukmu dan keluargamu. Semoga Allah angkat semua penyakit anakmu. Semoga putrimu cepat sembuh. Salam untuk istri dan anakmu yang masih di rumah sakit,” kataku.
Kujabat tangannya. Kutinggalkan rumah sahabatku itu dengan doa kecil terbaik dari lubuk hatiku. Cakar-cakar emas kuning kemerah-merahan nan indah telah memperlihatkan kuasanya. Senja pun genap. Dari kejauhan kudengar lamat-lamat suara azan Magrib.
Banda Aceh, 20 Mei 2019
Muhammad Muis adalah bahasawan dan kepala Balai Bahasa Aceh, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan; pencinta dan penikmat sastra