Di Satu Titik, Kau Menghantarkan Aku

Aku ikut mengekor dibelakangnya menuju ruang tamu. Kuperhatikan sekeliling ruang tamu. Ada beberapa foto yang sudah memudar. Aku tidak mengerti mengapa Gerry selalu menolak jika aku ingin ke rumahnya. Rumah ini memang tidak mewah, tapi tidak buruk.

Kemudian Gerry muncul dengan wajah yang merah.

“Kenapa kamu kesini?” Tanyanya agak ketus. Seumur-umur aku belum pernah mendengarnya berbicara ketus seperti itu. Seumur-umur hidupku. Apakah ia memiliki sifat berkepribadian ganda? Baik di sekolah, buruk di rumah.

“Kerja kelompok, kan?” Jawabku.

“Kita janjian jam 3 sore, dan di rumahmu. Bukan di rumahku.” Ucapnya penuh penekanan. Tak biasanya ia seperti ini, tak ada senyum yang tersungging dari bibirnya.

Saat aku menjawab ucapan Gerry, aku mendengar suara gaduh dari arah dapur. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, mata Gerry yang selalu memancarkan kehangatan, kini, mata itu terisi oleh rasa malu, dan juga kecewa. Teriakan demi teriakkan menemani keheningan yang tak sengaja tercipta antara aku dan Gerry.

“Kamu, sana pulang ke rumah ibumu!”

“Kamu saja yang pulang ke rumah ibumu!”

“Ini rumahku, kamu saja yang pergi!”

“Kita beli rumah ini dengan uang bersama! Aku juga mempunyai hak atas rumah ini!”

“Aku membayar lebih banyak!”

“Tetap saja aku ikut membayar!”

“Tidak! Ku bilang, kamu pergi, ya, kamu pergi!”

Aku menelan ludahku kasar, suara teriakkan yang bersahut-sahutan antara pria dan wanita itu terdengar jelas (bahkan, terlalu jelas) di pendengaranku. Kedua orang itu terus saja beradu mulut. Gerry hanya menunduk, mungkin menahan rasa malu yang menyerangnya sekarang. Kutepuk pundaknya, memberinya kekuatan. Ia menoleh kepadaku, dengan jelas, ku lihat matanya berkaca-kaca, aku yakin seratus persen, sebentar lagi, air mata itu akan turun dan membasahi pipinya. Kueratkan peganganku di pundaknya, berharap ia akan baik-baik saja, tapi kenyataannya mungkin tidak. Tidak sama sekali.

“Mereka selalu seperti itu.” Jelasnya tanpa kupinta.

“Maksudmu? Berteriak dan beradu mulut seperti itu?” Tanyaku sepelan mungkin, agar Gerry tidak tersinggung.

Arsip Cerpen di Indonesia