“Ya. Bahkan, untuk hal sepele.” Jawabnya lancar, membuatku mengantupkan mulutku rapat. Aku tak berani untuk ikut campur urusan keluarga Gerry.
“Mungkin mereka akan bercerai.” Jawabnya.
Selama ini, tanpa kusadari, teman malaikatku itu, si manusia yang kuanggap sempurna, si manusia yang mudah menggapai cita-citanya, seorang lelaki yang selalu dipuja, dicintai. Di balik itu semua, ia juga seorang manusia biasa yang dilengkapi masalah hidup yang memaksanya menciptakan seribu senyuman. Yang akan dipasangnya setiap hari, senyum yang ia gunakan untuk menunjukkan betapa baik hidup, yang tak sesempurna pandangan orang-orang.
Oh diriku. Hidupku terasa terguncang, sebagai seorang anak manusia yang terlahir dari ayah dan ibu yang luar biasa, bahkan kalimat dari bibir mereka semuanya sangat indah, dambaan setiap orang, terutama Gerry. Aku, aku malah menyia-nyiakannya.
“Lalu… kenapa kau baik sekali? Bukannya anak-anak yang datang dari keluarga bermasalah selalu membuat masalah lagi?” tanyaku hati-hati pada Gerry.
“Pernah melihat teratai? Kau tahu, sekalipun teratai hidup dan tinggal di tempat yang kotor, ia akan selalu indah dipandang, ia akan selalu menebarkan bau harum. Padahal, ia lahir dan tumbuh di dalam lumpur, di dalam sana. Orang-orang tak akan tahu betapa berjuangnya sebuah teratai. Davis, anggap saja kau bunga teratai dan lumpur itu adalah masalah yang kau hadapi dalam menggapai mimpi terhebat. Tapi, begitulah, bunga teratai akan terus berjuang untuk semua mimpi-mimpinya. Ia tidak akan pernah menyerah. Apa kau tidak iri dengan bunga teratai?”
Aku merasa hidupku beruntung sekali memiliki teman si manusia teratai ini. Ia telah mengubah jalan hidupku. Di satu titik, ia menghantarkan aku…
28 Februari 2018
Ramajani Sinaga, adalah seorang Guru Bahasa Indonesia di sebuah lembaga pendidikan Banda Aceh.