Oleh Kak Ian (Solopos, 16 Juni 2019)

Tiga hari lagi Lebaran tiba. Seperti biasanya Bunda selalu mengajak Noto pergi belanja keperluan untuk Lebaran. Namun untuk kali ini Bunda bukan hanya membeli keperluan untuk keluarga saja melainkan juga membelikan keperluan Lebaran untuk kakek dan nenek di kampung.
“Nanti Bunda akan membelikan kakekmu baju koko, sarung dan kopiah. Sedangkan nenekmu, Bunda akan belikan juga mukena dan sajadah baru. Oya, nanti kamu yang berikan kepada mereka ya, Sayang? Kan kamu cucu yang paling disayang oleh mereka,” sebelum menuju ke pusat perbelanjaan bunda lebih dulu memberi pesan pada Noto.
Noto yang diajak bicara diam sejenak. Mata kecilnya ternyata menerawang tertuju ke para pedagang kulit ketupat yang ada di emperan toko saat menuju pusat perbelanjaan. Di antara pedagang itu ada juga yang sedang merangkai ketupat dari daun kelapa.
“I-iya, Bunda!” pungkas Noto tergagap.
Noto terlonjak, terkejut saat tangan bunda memegang pundaknya. Noto ternyata melamun saat bunda sedang bicara dengannya. Karena mata kecil Noto masih ke arah ke pedagang kulit ketupat. Dan itu mengingatkan kakek di kampung. Biasanya sebelum Lebaran, Noto selalu berkunjung ke rumah kakek lebih dulu.
“Terima kasih ya, Sayang! Kalau begitu kita ke toko pakaian muslim dulu ya,”
“Siap, Bunda!”
Esok harinya Noto pun ke kampung halaman kakek dan nenek. Tidak lupa ia membawa kejutan untuk kakek dan nenek untuk hari Lebaran. Tidak lain semua itu adalah pemberian dari bunda. Segala perlengkapan pakaian dan untuk salat.
“Wah akhirnya aku kesampaian juga ke rumah kakek dan nenek!” pekik Noto saat kaki kecilnya menginjak perkampungan di mana kakek dan neneknya tinggal.
Noto pun langsung mencari kakek. Tapi yang ada hanya nenek di teras depan yang sedang memilah daun muda kelapa untuk dijadikan ketupat.
“Nenekkkk…!” teriak Noto saat menemui nenek. “Aku kangen nenek dan kakek!”
“Nenek juga, kok, Cucuku yang ganteng!” pungkas nenek. “Oya, Kakekmu sedang ada di kebun kelapa. Silakan kamu ke sana. Kebetulan kakek sedang membuat ketupat dari daun kelapa.”
“Siap, Nek!” seru Noto. “Ya, sudah aku temui kakek dulu ya, Nek!”
Nenek hanya mengangguk sambil dibarengi senyumnya yang hampir tidak lengkap dengan giginya. Maklum nenek sudah sangat lanjut usia. Akhirnya nenek pun kembali memilah daun kelapa untuk dijadikan ketupat nanti. Sedangkan Noto terburu-buru menemui kakek di kebun kelapa.
Sesampai di kebun kelapa Noto melihat kakek sedang membuat ketupat dari daun kelapa yang baru saja ditebangnya. Tampak banyak daun kelapa berhamparan di hadapan kakek. Begitu saat Noto tiba menghampiri kakek.
“Kakekkk! Aku datangggg, Kek!” pekik Noto sambil tangannya membentang.
Ingin memeluk kakek.
“Ups, tidak usah peluk kakek! Badan kakek bau keringat habis panjat pohon kelapa,” ujar kakek menggoda Noto.
“Iya, deh, Kek! Tapi cium tangan kakek boleh kan?” tawar Noto.
Kakek pun menjulurkan tangan tuanya. Noto langsung mencium tangan kakek. Begitulah cara Noto menghormati kakek dan juga sebagai anak yang saleh.
“Ayo, sekarang kita buat bersama-sama,” ajak kakek sambil menyerahkan daun kelapa yang muda kepada Noto. “Kamu masih ingat kan cara membuatnya?”
“Hmm, masih ingat, Kek!”
Akhirnya Noto kembali membuat ketupat bersama kakek. Dan itulah yang Noto inginkan sejak dari rumah. Ia ingin bersama-sama membuat ketupat dengan kakek. Apalagi selama ini kakek yang mengajarinya membuat ketupat dari kulit daun kelapa.
Menjelang senja akhirnya mereka usai membuat ketupat. Tampak Noto membuat ketupat banyak sekali. Ia sudah pandai membuatnya. Tapi kali ini sebelum dijual di pasar esok pagi ia merendam ketupatketupat itu dengan perwarna kue. Ada merah, kuning, hijau dan orange. Setelah itu dikeringkan.
Kakek takjub melihat ketupat-ketupat bikinan Noto. Ternyata cucunya itu sangat kreatif. Ketupat-ketupat itu menjadi sangat unik. Pasti laris diserbu pembeli.
“Cucuku hebat! Kakek salut denganmu, No!” puji Kakek.
Noto pun menjadi tersipu. Tampak pipinya kemerahan seperti tomat.
“Ah, Kakek bisa saja! Tapi besok boleh kan aku ikut berjualan ketupat-ketupat itu, Kek?” tanya Noto meyakinkan.
Noto ingin seperti saat menjelang Lebaran tahun-tahun lalu. Ia ingin bisa menjual ketupat-ketupat ceria miliknya saat itu.
“Iya, pasti! Kamu ikut kakek berjualan besok,” kata kakek mengiyakan.
Noto yang mendengarkan ucapan kakek langsung menemui nenek. Ia akan menemani kakek berjualan daundaun kelapa itu dan menjual ketupat ceria buatannya. Hal itu ia lakukan sekaligus membantu kakek serta belajar berniaga sejak kecil. Apalagi Noto bercita-cita ingin menjadi pengusaha yang sukses. Noto pun menjadi bangga pada ketupatketupat hasil buatannya itu.