Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, Baretta bercerita lagi tentang raja yang tak pernah habis untuk dikagumi. Ada saja kisah-kisah yang dibalut dengan sangat rapih menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah merasuki jiwa anak-anak. Kali ini Baretta bercerita ketika suatu hari raja dari negeri tetangga datang ke negeri ini untuk mengeruk hasil bumi, jelas saja raja sangat murka. Selain dapat merusak tanah dan siklus alam sekitar yang teramat dicintai, juga hasil yang ditawarkan sangat merugikan rakyat terlebih tenaga yang dipakai untuk sebagian besar pekerjaan tidaklah berasal dari dalam negeri. Dengan berangnya sang raja menolak mentah-mentah ajakan itu, dan mengeluarkan senapan ketika raja dari negeri seberang masih bersikeras. Dragunov yang sedari tadi menyimak dengan sungguh-sungguh kisah yang terlontar dari mulut ibunya itu hanya mengangguk-angguk dan terlihat sangat antusias. Bahkan sesekali ketika Baretta sudah kehabisan kata-kata, Dragunov apabila belum tiba kantuknya, dia kerap meminta melanjutkan cerita. Jika cerita sudah sampai pada kata habis, maka Dragunov akan meminta untuk mengulang cerita yang sudah-sudah. Kagum benar dia pada sosok rajanya itu.
Pernah suatu waktu Dragunov, bocah laki-laki yang baru duduk di kelas satu sekolah tingkat dasar itu, menunggu hadirnya pesawat sang raja yang selama ini sering mengusik langit di atas atap rumahnya. Dia benar-benar menunggu dari pagi sampai petang. Kebetulan, hari libur sekolah. Pada penantian panjang yang teramat membosankan, Dragunov akhirnya bisa juga melihat pesawat sang raja ketika matahari hampir terbenam. Dilambaikan tangan mungilnya sambil berteriak-teriak seakan-akan teriakan itu mampu menembus lapisan awan lalu sampai pula ke telinga sang raja. Walau memang pada kenyataannya, pesawat raja yang tidak begitu besar itu tidaklah terbang terlalu tinggi. Sengaja tidak tinggi supaya raja benar-benar dapat memantau rakyatnya dari udara. Meskipun secara rutin setiap enam bulan sekali, raja keluar dari kastilnya turun ke rumah-rumah untuk melihat langsung keadaan rakyatnya.
Kelakuan Dragunov tidak hanya sebatas menunggu pesawat raja lewat di atas atap rumahnya, pernah juga suatu ketika Dragunov membuat pesawat mainan dari kertas warna-warni, kemudian dia juga menggambar pesawat lengkap dengan dua orang di atasnya, yaitu dia dan raja. Gambar beserta pesawat kertas itu dititipkannya kepada tangan kanan raja untuk diberikan kepada sang raja itu sendiri. Namun, tidak ada kabar apakah titipan Dragunov itu sampai ke tangan sang raja atau tidak. Meskipun demikian, Dragunov yang memang tidak paham pada balasan, sangat senang. Untuk seharian itu, dia tersenyum sepanjang hari, banyak makan, sedikit bermain, banyak belajar, dan di sekolah dia mendapatkan nilai sempurna, meskipun cuma untuk hari itu saja. Malamnya, dia berdoa saat besar kelak dia bisa lebih dekat dengan raja, bukan bermaksud untuk menggantikan posisi raja, tidak sama sekali, namun hanya berharap sangat dekat saja, bila tidak berlebihan satu pesawat dengannya saja sudah lebih dari cukup. Doa itu ditutup dengan usapan kedua telapak tangan di wajah.