Kelingking Ungu Astuti

Kata Suryat, kerja penat butuh hiburan. Room karaoke bisa meringankan tekanan pekerjaan. Sambil santai Suryat bisa mengoordinasi anak buahnya. Di tempat itu pula ia bisa memberi laporan kepada pemberi order.

Aku Astuti, pemandu lagu. Suryat memilihku karena selain cantik dan seksi, aku bisa memijit, aku tahu cara mengendurkan otot dan otak. Itu menurut Suryat.

Suryat menyentuh tanganku sambil menelepon anak buahnya. “Mulai sore nanti tahap pertama mulai diturunkan ya? Paket tigapuluh ribu. Jangan dikurangi. Nanti ada bonus khusus. Paket dua disiapkan sambil lihat-lihat keadaan. Jika ada apaapa segera laporkan.” Suryat mematikan HP, meneguk minuman dan mengajakku berdiri. TV dinyalakan.

“Ayo mok-semok latihan nyanyi lagi.” Kami menyanyikan sebuah lagu, “Bisane mung nyawang, gak isa duweni…..” Kami berjoget di ruang gelap.

Suryat menyuruhku mengurangi suara TV. Ia menjawab telepon dari seseorang. “Iya masih kerja ini. Nanti kalau sudah selesai urusan pasti aku pulang. Kan menjelang pemilihan, harus kerja keras ini. Demi kamu dan anak-anak. Anakanak sudah mandi? Nanti kalau di rumah aku ceritakan semuanya. Begitu dulu ya?” Telepon ditutup.

***

Bermacam alasan orang datang ke pangkuanku. Orang menang datang padaku untuk berpesta merayakan kemenangan. Alasan orang kalah datang padaku untuk dielus didekap dan ditenangkan. Remaja datang padaku agar lekas besar, sebaliknya orang tua datang padaku agar merasa tetap muda. Orang kaya datang padaku sebagai cara menghabiskan uang. Profesi yang aku jalani saat ini termasuk profesi paling penting di dunia ini.

Profesi pemandu karaoke ini sejajar dengan psikolog, terapis, dan penyanyi. Tugasku memulihkan jiwa-jiwa yang kalah dan lelah menghadapi hidup. Aku menggunakan berbagai metode untuk menggairahkan otot dan otak. Setelah bertemu denganku orang-orang kembali segar dan siap menghadapi hidup kembali. Terkadang hanya telingaku yang lebih banyak bekerja. Aku mendengarkan apa saja yang dibicarakan pelangganku. Seringkali aku tidak paham yang ia bicarakan bahkan aku tidak peduli dengan yang ia utarakan. Selain menyediakan telinga, aku melihat terus matanya, perubahan air mukanya. Jika ia terlihat senang, aku ikut tersenyum, jika ceritanya sedih aku juga mengimbanginya, tetap tersenyum tetapi senyum simpati.

Namun sebagaimana dokter, aku tidak lepas dari penyakit, sebagaimana psikiater aku bukan bebas dari masalah. Aku juga punya masalah yang harus segera aku selesaikan. Namun, pada para pelanggan aku adalah penyelesai masalah.

Arsip Cerpen di Indonesia