Aku tinggalkan pacarku yang uring-uringan. Aku hindari pula Suryat yang membujuk meminta bertemu. Aku menjalani proyek yan g lebih besar. Dua pekan setelah pemungutan suara, aku mendapat order penyembuhan. Jika biasanya orang datang di ruanganku yang gelap, kali ini aku didatangkan di sebuah kamar hotel. Tugasku masih sama, menemani menyanyi. Ia seorang lelaki mapan. Kemarin dia ikut mencalonkan diri sebagai anggota legislatif tingkat provinsi. Uang sudah ia keluarkan banyak, tetapi dia tidak mendapat suara cukup. Ia mendapat laporan, uang tidak sampai ke pemilih. Uang berhenti pada tim sukses, digunakan membeli tanah dan mobil. Bukan masalah uangnya yang membuatnya stres, tapi kehormatan dan gengsi.
“Tolong temani dia, hibur dan ajak senang-senang. Jika bisa membuatnya riang seperti semula, maka kamu akan mendapat bonus besar. Sudah sejak tiga hari dia tidak mau ngomong, makannya sedikit, bisnisnya tidak diurus, orang tuanya sedih,” Begitu pesan temannya saat menghubungiku.
Aku masuk ke sebuah kamar. Aku meletakkan tas di meja. Aku melihat sesosok lelaki dengan tubuh besar, berkulit putih, berambut pelontos tidur tengkurap. Ia hanya mengenakan celana dalam. Aku pastikan pintu tertutup dengan benar. Ini proyek besar. Karena sesuai kontrak, aku harus menemaninya selama satu pekan dan bisa ditambah sesuai kebutuhan. Aku saksikan sebuah kamar yang besar dan bersih. Membuka pintu langsung tembus kolam renang.
Mula-mula aku sentuh kakinya. Aku membisik di telinganya dan menyebutkan nama. Dia mengangguk. Sebuah tato bergambar singa tampak murung terlukis di dadanya. Aku lihat tubuh ini seperti tumbuhan. Bulu-bulu di kaki, dada, perut seperti akar. Aku elus bulu-bulu itu. Bulubulu mulai berdiri. Mukanya yang putih berubah merah. Benih yang di dalam celana itu aku saksikan mulai merekah dan tumbuh menggeliat. Aku pernah membaca sebuah artikel, lelaki sesetres apa pun, jika bagian benihnya masih berekasi ketika akar-akarnya disentuh maka ia masih bisa disembuhkan. Bonus terbayang di depan mata.
Muhajir Arrosyid. Dosen di Universitas PGRI Semarang. Buku kumpulan cerpennya “Menggambar Bulan dalam Gendongan dan di Atas Tumpukan Jerami”.