Makam Nyai Malinda

Kehendak yang direncanakan oleh kepala desa beserta para jajaran kabinetnya dan juga warga kampung itu pun semakin terdengar di mana-mana. Para wartawan dari berbagai media masa lokal maupun nasional pun turut andil, setiap hari berduyun-duyun memotreti wisata cuci mata itu. Mereka berdesakan mencari informasi tentang wisata yang paling heboh sepanjang abad ini.

Kini semakin lengkap saja menelusur permukaan hingga ke akar-akar pelosok negeri ini tentang kabar yang menggemparkan mengenai sebuah wisata cuci mata, sebuah tempat wisata yang hiruk-pikuk dengan para peziarah yang cantik-cantik, menor, bahenol dan seksi-seksi setiap harinya. Lebih-lebih pada bulan Ramadan seperti ini, benar-benar setiap hari selalu saja bertambah banyak para peziarahnya.

Sebuah pelosok kampung yang dulunya sepi dan sangat jauh dari keramaian kini telah menjadi pusat wisata yang hiruk-pikuk. Kepala desa beserta para jajaran kabinetnya pun kali ini benar-benar ingin menutup komplek pemakaman tersebut.

Kepala desa juga telah menugaskan para jajaran kabinetnya dan beberapa warga kepercayaan untuk mendatangi para keluarga yang memiliki sanak saudara yang di makamkan di kompek pemakaman tersebut, untuk membicarakan perihal pembongkaran serta pemindahan jasad-jasad yang diabadikan bertetanggaan dengan makam Nyai Malinda.

Kali ini kepala desa benar-benar semakin mempertegas kehendak tersebut. Atas dukungan para jajaran kabinet serta masyarakatnya, pembongkaran serta pemindahan jasad-jasad yang diabadikan bertetanggaan dengan makam Nyai Malinda pun semakin hampir terealisasikan.

“Mari kita urus pembongkaran serta pemindahan jasad-jasad yang diabadikan bertetanggaan dengan makam Nyai Malinda. Agar kampung kita benar-benar menjadi tempat wisata yang besar sepanjang abad ini! Agar kelak menjadi tempat yang bersejarah dan menghasilkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat kita. Sehingga warga kita akan benar-benar makmur dan sejahtera!”

Begitulah ungkap kepala desa dengan sangat lantang di hadapan forum rapat pencanangan penutupan komplek pemakaman dan pembongkaran serta pemindahan jasad-jasad yang diabadikan bertetanggaan dengan makam Nyai Malinda. Semua warga pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh kepala desa. Karena memang hal tersebut sudah menjadi kesepakatan dan kehendak bersama.

Mengingat segenap warga pun merasa diuntungkan dengan adanya wisata cuci mata tersebut. Mereka tak mempedulikan apa pun mengenai segala dampak yang akan ditimbulkan dari wisata aneh itu. Walaupun anak-anak mereka yang masih umur belasan menjadi saksi tentang wisata terheboh sepanjang jaman di negeri ini.

Arsip Cerpen di Indonesia