Hingga selanjutnya makam Nyai Malinda dijadikan sebagai tempat ziarah bagi para pelacur, sampai saat ini. Karena bagi para pelacur yang berkunjung, berziarah ke makam Nyai Malinda adalah wujud untuk mencari berkah dalam melacur. Ungkap wartawan atas pengakuan seorang nenek tua renta yang ternyata tinggal di kampung tersebut. Seorang sepuh yang dulunya juga sempat mengurus pemindahan jasad Nyai Malinda di komplek pemakaman yang sekarang ini. Ya benar, nenek itu juga seorang mantan pelacur. Ungkap salah seorang wartawan surat kabar lokal setempat. ***
Semarang, Desember 2015-2019
Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Cerpen pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang ini termuat dalam antologi Bila Bulan Jatuh Cinta (2009), Bukan Perempuan (2010), Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (2010), Tanda (2010), Tatapan Mata Boneka (2011), dan Perempuan Bersayap di Kota Seba (2011). Peraih Penghargaan Acarya Sastra 2017 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Anugerah Sastra Litera 2018 sebagai penulis puisi unggulan ini mengikuti Residensi Sastrawan Berkarya ke Wilayah 3T 2019 Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan.