Laki-Laki Bertulang Celurit

“Iya, tapi mau bagaimana lagi semua belum ada bukti siapa yang mengkhianati Sukam di pemilihan kemarin. Aku percaya pada mu.” Satiha hanya bisa menasehati Arsumo. Tak berani menyela apalagi ikut campur dalam permasalahan yang menimpa suaminya.

Satiha memang istri yang sangat harmonis, bisa di andalkan dalam  situasi apapun, terlebih dalam persamalahan seperti ini ia mampu sedikit meredam emosi Arsumo. Pantas saja dulu banyak laki-laki memperebutkannya untuk di persunting sebagai istri, karena  Satiha terlahir dari keluarga berada dan cukup terpandang di kampung Tarebung. Terlebih ia adalah kembang desa dimasanya sehingga tak heran sampai detik ini kecantikannya masih melekat di usia yang tak lagi muda.

***

Langit tampak cerah. Bulan sabit melengkung serupa celurit menggelantung di atap rumah Arsumo. Suasana sepi, hanya suara gesekan bambu dibelakang rumah berderu-deru. Dingin terasa mencabik-cabik kulit, ditambah suara burung hantu di ujung tegalan membuat malam nampak sangat seram.

Angin bertiup pelan, memperlambat gerakan daun siwalan di depan halaman Arsumo. Lampu teplok di dinding rumah Arsumo meliuk-liuk bertahan untuk tetap menyala. Secangkir kopi, dan rokok Oepet menemani Arsumo. Ia menjatuhkan pantatnya di atas kursi. Kala itu Arsumo kembali mengingat-ingat kejadian kemarin saat Sukam kalah di pemlihan kepala desa. Pikirannya bercabangcabang hingga tak hanya peristiwa itu yang terputar dalam ingatannya. Tepat dua puluh tahun lalu saat dirinya memperebutkan Satiha dengan Sama’on juga melintas dalam ingatannya. Saat itu Sama’on kalah adu ilmu kanuragan, hingga Arsumolah yang berhak mempersunting Satiha.

“Apa mungkin ini ulah Sama’on?” gumam Arsumo. Kembali menyeruput kopi buatan Satiha.

“Jika memang begitu, kenapa harus dengan cara seperti ini. Kenapa tidak langsung saja Sama’on datang kepadaku jika punya dendam.” Arsumo hanya diam. Pikiranyya melayang-layang dan kembali menduga-duga.

“Hik-Hik-Hik…!” suara tangis terdengar dari dalam. Arsumo kaget. Menghampiri Satiha yang tersedu-sedu dengan isak tangisnya.

“Ada apa? Kenapa kamu menangais?” tanya Arsumo. Mengelus-ngelus pundak Istrinya.

Arsip Cerpen di Indonesia