“Aku malu kak. Kata orang-orang kamu menghianati Sukam karena di sogok Zaini. Kenapa kamu lalukan semua ini, apa yang kurang dari Sukam, dia telah banyak membatu keluarga kita. Tapi kenapa kamu melakukan itu.” Satiha semakin larut dalam tangisnya.
“Kata siapa?”
“Di luar sudah banyak yang mengunjing keluarga kita. Aku dengar sendiri tadi saat belanja ke warung. Saat itu Sama’on juga ada disana, dia yang mengatakan itu semua dan aku sangat jelas mendengarya.”
“Sudah ku duga ini pasti ulah Sama’on!”
Harga diri Arsumo terasa terinjak-injak. Apalagi saat tahu bahwa Sama’on yang bermain di balik semua ini. Amarah tak lagi bisa ia tahan. Rasa dendam mencuat dalam dadanya, ingin membalas atas perlakuan Sama’on yang menjatuhkan harga diri dan nama baik keluarganya.
Tatapannya tajam pada suatu titik. Di lihatnya celurit di atas pintu kamar, sorot matanya membidik setiap lengkungan celurit itu.
“Harus segera aku selesaikan masalah ini.” Arsumo beranjak keluar rumah.
“Kak! Mau kemana kamu?”
“Mau menebas kepala Sama’on.” Jawab Arsumo singkat. Tak lama Arsumo hilang ditelan kelokan.
Dua jam sudah Arsumo pergi, sampai detik ini belum juga kembali. Satiha di hantui rasa cemas. Pikirannya kalang kabut, kacau tak karuan. Di luar pagar burung gagak bersahut-sahutan, biasanya menjadi pertanda ada orang yang telah meninggal. Tapi, Satiha menepis semua itu ia memilih berfikir jernih dan kembali menunggu kepulangan Arsumo.
Rasa khawatir semakin merasuk jiwa Satiha. Ia memilih menyusul Arsumo yang tak kunjung kembali. Satiha melangkah dengan tertatih-tatih menyusuri jalan setapak. Di sepanjang jalan doa-doa ia panjatkan pada yang maha Kuasa, agar Arsumo diberi kesalamatan.
“Satiha… Satiha…Satiha!” Suara Sukam memanggil Satiha dari belakang.
“Ya, kenapa? Apa kamu melihat suamiku?”
“Suamimu… Suamimu!” ucap Sukam terpotongpotong.
“Ada apa dengan suamiku. Dan dimana dia sekarang,” tanya Satiha penuh cemas, “Suamimu… Arsumo telah meninggal.”
Seketika tubuh Satiha rubuh ke tanah. Tidak habis pikir semua berakhir dengan ini, kematian. Air matanya tak bisa ia bendung lagi. Tangis dan kematian Arsumo memecah hening langit kampung Tarebung.
***